Latest News

Mahasiswa dan Peradapan Milenial


Berbicara tentang Mahasiswa memang sangat menarik untuk dibahas, dimana teriakan-terikan mahasiswa dijalan yang membawa kritik kepa pihak yang dianggap belum mampu menjalankan aspirasi rakyat.

Terkadang banyak mahasiswa menggap hal seperti itu sangatlah tidak mencerminkan sifat mahasiswa itu sendiri, Mahasiswa beranggapan turun kejalan atau berorasi menyampaikan pendapat dan kritik dimuka umum adalah tindakan yang salah dan tidak patut dicontoh.

Persepsi mahasiswa yang keliru itulah yang membuat mahasiswa terbelenggu dengan jerat dan peranggkap yang sengaja dibuat oleh sebagian orang untuk menghilangkan jiwa kritis mahasiswa, jiwa kritis yang terjun langsung dilapangan inilah sebenarnya yang sangat ditakuti setip pemangku kepentingan. Karena mahasiswa yang

“mengemukakan kritik di muka umum secara langsung akan berpotensi membuka semua celah, aktifitas yang menyimpang atau rapor merah sehingga akan membangun persefsi masyarakat, yang mengakibatkan tibulnya citra buruk terhadap pemangku kepentingan”.

Pada dasarnya jiwa kritis mahasiswa adalah senjata yang sangat ditakuti semua pihak, harusnya mahasiswa mampu memahami itu semua agar menjadi power atau kekuatan mahasiswa. Kekuatan yang tepat guna dan tepat sasaran, sebenarnya semua mahasiswa itu punya jiwa kritis namun belum tumbuh sehingga membuat “mahasiswa salah mempersonifikasikan bahwa menyampaikan kritik dimuka publik perbuatan yang salah” padahal sebaliknya karena dengan menyampaikan kritik dimuka publik cenderung membangun dan meminimalisir para pembuat kesalahan dalam menjalankan kegiatan.

Mahasiswa yang hari ini cenderung kepada hura-hura kampus kantin, kosan, inilah sekarang yang menjadi budaya ditengah-tengah mahasiswa Indonesia pada saat ini, mahasiswa seolah-olah telah didesain untuk cenderung pada Fashion, mahasiswa lebih memilih nongrong di kantin, nonton bioskop dengan pacarnya dan banyak lagi,

Sebuah tren terbaru dalam dunia kampus membawa misi study banding kebeberapa kota namun pada hakikatnya study banding itu hanyalah bungkus untuk menyamarkan, dan menarik minat mahasiswa namun pada kenyataannya adalah hanya jalan-jalan keberbagai kota semata, mahasiswa bangga mengikuti acara yang tidak mendidik di stasiun tv swasta nasional yang hanya ingin eksis di tv memang tidak dapat dipungkiri semuanya hannya kepantingan sekelompok orang untuk mengembangkan bisnis sekaligus membangun pemikiran mahasiswa agar tidak besikap kritis terhadapa permasalahan.

Di Indonesia sendiri jika kita flashback kepada rintisan sejarah mahasiswa senantiasa memiliki konsistensi terhadap gerakan moral, cita-cita serta ide dan gagasan banyak dilahirkan oleh Mahasiswa misalnya pelopor terhadap gerakan revolusi pada tahun 1998 dengan trituranya yang berhasil merubah Indonesia menjadi lebih baik. lalau mengapa sampai pada saat ini masih saja banyak mahasiswa cenderung apatis atau acuh takacuh pada setiap persoalan yang melanda dan menyandra bangsa ini.      

Sedangkan di berbagai daerah kabupaten dan provinsi di Indonesia banyak gerakan Mahasiswa yang mecatatkan mereka dalam membuka kasus korupsi yang berujung pada pemecatan kepala daerah,

Sample diatas merupakan fenomena yang harus kita garis bawahi dalam rangka mewujudkan cita-cita ideal terhadap bangsa ini, bukan gerakan mahasiswa yang salah, lalu juga bukan berarti bahwa gerakan gerakan mahasiswa yang selama ini terbangun tidak mendapatkan hasil sama sekali.

Namun tidak menafikkan juga peran gerakan mahasiswa sebagai upaya kontrol terhadap kebijakan-kebijakan kadangkala dianggap sebagian orang sebagai angin lalu oleh para pemangku kebijakan haltersebut tidak berjalan dengan baik dan tidak sesuai dari prosedur atau mekanisme yang sebenarnya.

Banyak hal yang memang bisa dilakukan oleh mahasiswa dalam mengawal kebijakan-kebiajan jika silihat dari subtansi. Apaun itu caranya baik itu melalui tulisan, lisan dan lain-lain dalam menangkap fenomena maka sebenarnya kita telah mengambil peran penting dari apa yang dinamakan dengan gerakan mahasiswa.

Maka dari itu mahasiswa harus membangkitkan kembali tradisi

    Membaca

Membaca akan membuka pintu gerbang pengetahuan kita terhadap dunia ini, dengan membaca kita akan memahami dengan paham kita akan mengamalkan.

Sangat jarang sekarang kita temukan mahasiswa yang duduk di tempat tongkrong yang telah dipasilitasi oleh kampus sambil membaca buku, sangat jarang kita temui di setiap perguruantinggi dan universitas baik itu islam dan umum, hampir tidak ada.

Namun sangat banyak mahasiswa yang duduk nongkrong bersama gajednya bahkan sibuk sendiri dengan gajed, mahasiswa kebanyakan menjadi korban penikmat media sosia, membaca berita yang informasinya menyesatkan ketimbang mereka membaca buku. Inilah penomena yang terjadi pada mahasiswa saat ini.

    Diskusi

Diskusi merupakan alat aplikasi dari hasil bacaan, atau ajang bertukar pendapat dan pikiran guna mengembangkan teknik publik speaking dan komunikasi agar membentuk jiwa yang dapat mengentol emosi dan melatih kecerdasan berfikir,

Sangat jarang kita dapati mahasiswa yang duduk berkelompok membahas dan membedah baik itu mata kuliah ataupun persoalan publik, jika mahasiswa berkumpul itupun bukan untuk berdiskusi melain itu membicarakan hal-hal yang besifat mencari kesenangan atau candaan dan gurawan belaka.

Padahal banyak permasalah yang harus dipecahkan dalam forum diskusi yang dibentuk secara instan di tempat tongkrongan kampus, semakin kita sering diskusi maka kita akan semakin terbiasa dalam menghadapi setiap permasalahan dan semakain cerdas juga kita dalam menghadirkan solusi dalam setiap permasalahan.

    Menulis

Menulis merupakan implementasi dari dari sebuah pemikiran yang dipengaruhi oleh bacaan dan di deskripsikan dalam bentuk kata-kata baik itu autokritik, saran yang sipatnya membangun.

Mahasiswa yang seperti ini masih terlalu sedikit jumlahnya dibanding dengan jumlah mahasiswa yang bermain game coc, coba kita bayangkan hampir semua teman kita punya gajed dan hampir pemilik gajed memiliki coc.

Dengan tidak sadar apabila kita menulis maka akan membentuk pola pikir yang sangat kreatif, dan akan membentuk sikap kita melalui pembicaraan dan sikap, semakin sering menulis maka akan membiasakan kita berfikir posip dan menjauhkan kita dari pengaruh pergaulan bebas dan bahaya laten narkoba.

Jika tiga hal tersebut yaitu membaca, diskusi dan menulis telah tertanam dalam benak mahasiswa maka akan membangun jiwa kritis dalam dunia kampus, sehinnga akan membangkitkan kembali marwah seorang mahasiswa dimata semua orang, apabila tertanam budaya membaca diskusi dan menulis akan memicu kemajuan disemua bidang pembangunan yang akan membentuk kwalitas insan akademis yang siap mengemban amanah sabagai agen sosial control dimasyarakat.

Tinggal bagaimana kita semua meningkatkan kreatifitas kita masing-masing, serta profesional dibidangnya masing-masing. Karena tanpa itu semua mustahil apayang kita cita-citakan bersama akan terwujud.

Dikutip dari portal Kompasiana

No comments:

Post a Comment

Slilit.com || Meng-ada untuk Bermakna
|| Tata Letak: Rennes Syndicate ||..

Theme images by Bim. Powered by Blogger.