Post Terbaru
Iklan
CERITA DARI IBLIS
Malam masih saja belum berlalu, dan mata ini tidak bisa terpejam entah karena apa, tapi yang jelas malam ini aku merasa sangat senang sekali. Sore sebelum mentari benar-benar hilang aku dan beberapa temanku melakukan bakti sosial terhadap korban bencana alam, senang melihat mereka tersenyum dan begitu bergembira dengan bantuan dari kami.
Buku yang aku beli sepulang dari baksos sudah selesai aku baca, Kira-kira baru seperempat menit yang lalu aku mengkhatamkannya, tidak banyak yang bisa aku ambil dari buku itu, selain ekonomi, politik dan manipulasi kekuasaan serta beberapa metode menindas rakyat dan supaya rakyat tidak merasa di tindas. Aku berbaring untuk sekedar memejamkan mata yang lelah ini, tapi sampai sekarang, jam 01:00 aku belum juga bisa memejamkan mata ini.
Hari ini adalah hari libur, semua mahasiswa pulang kerumah masing-masing, sementara teman baksosku tadi juga sudah pulang kerumah masing-masing mungkin mereka sekarang sudah tidur dengan nyamannya. Aku kemudian meminum kopi yang baru saja aku buat, tidak ada rokok hanya ada putung rokok yang berserakan. anak kost, aku memang anak kost saat liburan aku tidak pulang “mending disini belajar daripada dirumah hanya dolan dan dolan”, pikirku. Aku menikmati kopi di emperan kostku, hening dan nyaman, sayang tidak ada buku yang aku baca.
“hai !”, sapanya yang muncul secara tiba-tiba.
“mau minum anggu?”, tanyanya kemudian, aku tersenyum dan menggelengkan kepala.
“aku sudah minum kopi, biarkan aku meminumnya dan kamu meminum anggurmu, barangkali kapan-kapan akan aku temani kamu meminumnya”, jawabku kemudian.
Dia duduk di sampingku, memandang buku yang telah aku baca tadi, “politik dan ekonomi, menarik tapi maukah kau mendengar cerita dari negeri ujung dunia yang pemerintahannya sangat agamis tapi pemerintahan itu sangat korup tapi rakyat tidak mengetahuinya”, katanya kemudian.
“masa ada pemimpin yang agamis kok melakukan korupsi”, pikirku, kemudian dia menceritakan pengalamannya hidup selama beberapa tahun di negeri itu. “iblis memang dilaknat tapi berbicara sejarah dan peristiwa, agaknya dialah yang paling bisa aku percaya, iblislah mahluk yang hidup dari zaman adam sampai sekarang, iblislah yang paling paham akan ilmu-lmu manusia”, batinku.
“ada rokok?”, tanyaku sebelum dia memulai cerita.
***
Aku dulu hanya anak kecil yang tidak bisa apa-apa, keluargaku adalah keluarga yang sangat patuh pada urusan-urusan agama, sekolah sampai perguruan tinggi dan akhirnya aku memperoleh gelar doktor dalam ilmu politik. Tepat tiga tahun yang lalu aku terpilih sebagai kepala Negara, sebagai pimpinan tertinggi maka aku harus menjadi tauladan yang baik, bahkan menurutku seorang pemimpin tidak boleh menampakkan cacatnya di depan publik.
Tiga tahun tentu waktu yang singkat bagi pemimpin diktator seperti diriku ini, tapi karena aku adalah doktor yang sangat cakap dalam berbagai disiplin ilmu maka dalam waktu yang sangat singkat itu aku bisa merubah negaraku menjadi negara yang benar-benar makmur.
Sumber daya alam dikuasai oleh negeri sendiri, “kami memanfaatkan SDM dalam negeri”, kataku saat diwawancarai oleh media. Ya kami adalah Negara mandiri, semua diolah secara mandiri, dari buku tulis, alat-alat komunikasi, alat-alat transportasi, dan lain sebagainya, “lihat, semua tertulis made Negara kita”, kataku melanjutkan.
Saat iseng aku melihat-lihat akun medsosku, ada yang lucu “diusia yang sudah tua ini apakah bapak menginginkan seks?”, Tanya salah satu akun medsos pada diriku, tentu bukan dari negaraku itu pasti dari negara di luar negaraku. Aku belum tua, usiaku masih tigapuluh empat tahun, bagaimana saya bisa menjadi kepala negara?, itu karena kecakapanku dan bukan dari hasil politik hitam.
Dan sudah barang tentu saya menginginkan seks, saat ini saya beristrikan 4 wanita, satu adalah anak ulama, satunya anak seniman dan budayawan, satunya anak politisi, dan yang terakhir adalah anak dari jendral saya. Setiap malam aku berdiskusi dengan mertuaku, berdiskusi apa saja, dan ketika lelah maka saya pergi kekamar dan sudah barang tentu aku melakukan itu.
Mertuaku yang pertama adalah ketua kepala agama di negaraku, sementara yang kedua adalah menteri kesenian dan kebudayaan, yang ketiga aku angkat menjadi menteri luar negeri dan yang terakhir adalah panglima tertinggi tentara kami, “kenapa bapak memilih semua aparatur pemerintahan dari keluarga bapak?”, Tanya wartawan, aku tidak menjawab hanya senyum dan kemudian aku masuk dalam mobil dinasku.
“kenapa mereka sangat ingin tahu kenapa aku memilih ini dan itu, dan kemudian jika tidak pas mereka kritik, apakah mereka lebih pintar dariku”, tanyaku pada sopirku, dan kebetulan dia adalah keponakanku sendiri, sebenarnya sudah kubujuk untuk sekolah politik tapi tidak mau, dia malah memilih jadi tentara, dan karena tidak ada perang maka aku mengangkatnya menjadi sopir pribadi.
Diatas aku sudah berkata jika aku adalah anak keluarga yang agamis, itulah diriku, di samping istana negaraku, aku bangun masjid yang begitu megah, jika malam lampunya bisa menerangi radius satu kilo meter persegi. Di masjid itulah, masjid Baitul Makmur, saya menjadi imam. Penduduk negaraku juga taat dalam beragama maka jangan heran jika rata-rata jamaah dimasjidku adalah seratus ribu jamaah setiap solat.
Sebagai manusia agamis dan agamaku menganjurkan hidup sederhana maka saya juga hidup secara sederhana, saya makan seperti makannya rakyat kami, minum seperti rakyat kami, dan rumahku juga seperti warga kami.
“kenapa disemua sektor yang memimpin adalah keluarga bapak?”, Tanya wartawan itu dan aku hanya diam seperti kemarin.
“kenapa mereka selalu bertanya seperti itu?”, tanyaku pada rektor perguruan tinggi terbesar di negaraku, dan kebetulan dia juga adik kandungku. Kenapa dia menjadi rektor, hal itu terjadi karena dia memang pintar dan cakap untuk memikul amanahnya.
Memang di semua sektor 99% dikuasai oleh keluargaku, tapi perlu diingat keluargaku adalah keluarga yang anti terhadap korupsi, hal ini terbukti dengan tidak adanya kasus korupsi, dan mereka semua membayar para karyawan dengan gaji yang semestinya, “jika sampean survey maka tidak ada keluhan terhadap pemerintahan kami ini”, terangku pada para wartawan.
Hari ini adalah hari ulang tahunku, maka aku akan mengabulkan segala permintaan rakyat jika mereka memintanya, ada rakyat yang meminta mobil maka aku berikan mobil, yang meminta mobil ternyata banyak sekitar seribu orang tapi karena aku baik maka aku berikan. Ada yang minta tanah, minta kapal pesiar, minta pesawat, minta uang dan segala hal, ada juga yang minta pelacur kelas tinggi yang harganya satu milyar, tapi karena aku baik tetap aku berikan.
Kini tiba saatnya wartawan yang aku berikan kesempatan untuk meminta sesuatu, “kenapa di semua sektor pemerintahan yang memegang adalah keluarga bapak?”, aku kaget tapi aku tetap tersenyum.
“begini, didalam agamaku diajarkan bahwa sedekah itu diwajibkan, dan yang paling utama adalah bersedekah terhadap keluarga terlebih dahulu, jika keluarga sudah cukup semua maka sedekah tingkat dua adalah kepadah masyarakat miskin. Coba anda bayangkan jika aku mati dan diminta pertanggung jawaban atas pemerintahanku, aku menjawab bahwa semua rakyatku tercukupi, tapi ternyata aku tidak memperhatikan keluargaku, maka aku pasti tidak akan masuk surga. Maka dari itu aku bersedekah dulu pada keluarga dekatku, berupa uang, jabatan dan pekerjaan, saat mereka tercukupi maka aku bersedekah pada rakyat, dan terbuktikan, jika disensus apakah ada masyarakat yang tidak tercukupi saat ini” terangku pada mereka, kemudian aku masuk kedalam rumahku.
“berapa harga perusahaan media itu Kar?”, tanyaku pada adikku nomer tiga.
“seratus milyar mas”, jawabnya, ternyata tidak terlalu mahal, maka sudah genap 100% keluargaku menguasai negara ini, aku ucapkan terimakasih pada Tuhan.
***
“setelah kejadian itu aku keluar dari media tersebut, seperti zaman Nabi-Nabi aku kemudian berkelana, tanpa pekerjaan tapi aku merasa damai”, terang iblis, aku hanya mengangguk.
“ingatlah Gus, model seperti diatas sudah terjadi di negaramu, mereka memang sangat patuh pada agama, tapi tidak mengenali siapa dan bagaimana agamanya”, terangnya lagi.
Aku kembali meminum kopi, subuh ternyata sudah datang, satu malam penuh aku dan dia bercengkrama, lebih tepatnya aku mendengarkan ceritanya karena kali ini aku hanya diam dan mendengarkan, “mungkin inilah alasan para pemimpin negeriku, mungkin itulah asal muasal dari kediktaktoran, bukan secara harfiah tapi secara makna, dimana seluruh keluraga menjadi penguasa dari suatu negeri”.
“ayo solat dulu”, ajak Iblis, kemudian aku bangkit untuk mengambil air wudhu.
Adbullah
penulis adalah mahasiswa iain ponorogo jurusan IAT
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment