Ponorogo- tepat pada senin (15/10) Komunitas Pustaka Kaki Lima atau akrab disebut PKL menggelar lapak bacanya. Komunitas yang berdiri baru setengah bulan ini memberanikan diri untuk ikut mewarnai kajian literasi di kawasan kampus IAIN Ponorogo yang mulai hilang. Total ada sekitar 7 orang yang memulai. Hal ini pun selaras dengan ungkapan Shohibul Fahmi, koordinator umum PKL. “Iya sebenarnya tujuan didirikannya PKL ini adalah keinginan kami untuk mengembangkan minat literasi generasi muda terlebih mahasiswa yang sekarang mulai kehilangan taringnya”, kata Fahmi.
Bertempat di sebelah barat masjid kampus 1 IAIN Ponorogo serta buka tiap hari senin dan kamis, PKL memberikan tawaran beberapa program yang cukup menarik. Diantaranya lapak baca di tempat, pinjam-meminjam buku secara gratis, menulis, dan NGAJI (Nganggur Angur kaJian). Program ini tidak serta merta diadakan, selain untuk menarik minat para mahasiswa program ini juga sebagai wujud pemenuhan hasrat mahasiswa yang haus akan literasi. Tidak mengherankan jika pada hari pertama pembukaan lapak baca, berbagai mahasiswa, dosen menyempatkan waktu untuk sekedar mampir ke lapak baca.
Antusiasme yang begitu tinggi ini cukup mencuri perhatian, pasalnya selama ini memang belum ada komunitas yang konsen untuk mengajak mahasiswa untuk membaca buku. Kalaupun ada, hanya dimasukkan dalam kajian atau diskusi. Buku-buku yang dilapakkan pun cukup beragam diantaranya sastra, pemikiran, biografi, jurnalistik, hukum, dan lain-lain yang semuanya merupakan donasi dari para anggota PKL. “Kami berharap gairah literasi mahasiswa mulai terbangun lagi karena kami sadar kuliah memang perlu tapi kita tetap harus punya wawasan di luar bangku kuliah”, tambah Fahmi. Slilit crew***
No comments:
Post a Comment