Engkau telah mengatakannya, wahai ksatria berkuda! Seharusnya memang ada hukum-hukum yang melindungi pengetahuan-pengetahuan yang telah kita dapatkan.
Ambillah misalnya salah satu dari beberapa murid kita yang baik. Dia seorang murid yang rendah hati, rajin. Sejak dari kelas tatabahasa ia telah mulai membuat catatan-catatan yang berisi ungkapan-ungkapan.
Selama dua puluh tahun ia terus mendengarkan bibir guru-gurunya. Setelah itu dia menyusun sejenis simpanan kecil intelektual. Bukankah simpanan kecil menjadi miliknya sebagaimana halnya dengan sebuah rumah atau uang?
P. CLAUDEL, Le Soulier de satin
_________________________________________
“Dalam kaitannya dengan segala kekayaan yang mengandung suatu usaha penguasaan simultan tanpa mengalami perubahan apapun, secara alami langage menghadirkan suatu komunitas yang penuh. Dalam komunitas itu semua orang secara bebas mengambil harta dari gudang harta universal, mereka berlomba secara spontan mempertahankan harta yang telah dimilikinya.” Dengan mengatakan itu maka Auguste Comte menggambarkan apropriasi simbolis sebagai sejenis partisipasi mistis yang secara universal dan seragam memang bersifat aksesibel bagi semua orang, jadi apropriasi itu tidak memungkinkan terjadinya perampokan hak milik. Dengan menggambarkan hal itu demikian, Auguste Comte menyajikan suatu ungkapan yang sangat baik tentang ilusi komunisme linguistis yang menghantui seluruh teori linguistik. Demikianlah, Saussure menjawab persoalan tentang kondisi-kondisi ekonomi dan sosial apropriasi langue tanpa pernah merasa perlu membicarakan persoalan itu, seperti halnya Auguste Comte, dengan cara menggunakan metafora gudang harta [trésor]. Metafora gudang harta itu diterapkannya secara sebarang atas “komunitas” atau atas individu: demikianlah maka Saussure berbicara tentang “gudang harta interior”, tentang “gudang harta yang dimiliki orang lewat praktik parole yang terjadi dalam subjek-subjek yang termasuk dalam komunitas yang sama”, tentang “kumpulan cetakan-cetakan yang tersimpan dalam setiap otak”. Chomsky berjasa secara eksplisit melekatkan kompetensi sempurna kepada subjek penutur dalam universalitasnya. Padahal, tradisi saussurian sudah melekatkan kompetensi itu kepada subjek penutur, tetapi tanpa pernah mengatakannya secara eksplisit. Chomsky mengatakan: “Secara fundamental, teori linguistik hanya berbicara tentang seorang lokutor-auditor ideal, yang ada di dalam suatu komunitas linguistis yang sepenuhnya homogen, yaitu lokutor-auditor yang mengenal langue-nya secara sempurna. Lokutor-auditor itu tidak tersentuh oleh efek-efek yang secara gramatikal tidak pertinen. Efek-efek semacam itu misalnya keterbatasan ingatan, distraksi, perubahan intensi atau kepentingan atau kesalahan dalam aplikasi pengetahuannya tentang langue-nya itu dalam performansinya. Bagi saya, nampaknya memang demikianlah posisi para pendiri ilmu linguistik general modern, dan bagi saya tidak satupun alasan yang cukup meyakinkan ada untuk memodifikasi posisi itu.” Pendeknya, dari titik pandang ini, kompetensi yang dibicarakan oleh Chomsky hanyalah nama lain dari langue yang dibicarakan Saussure. Langue dianggap sebagai “gudang harta universal”, gudang harta itu dimiliki sebagai proprietas utuh oleh satu kelompok sepenuhnya. Kompetensi linguistis dianggap sebagai “simpanan [dépôt]” yang dimiliki setiap individu. Individu mendapatkan simpanan itu dari “gudang harta universal” tadi. Atau kompetensi dianggap sebagai partisipasi yang dilakukan setiap anggota “komunitas linguistis” di dalam harta publik itu. “Gudang harta universal” itu bersesuaian dengan kompetensi linguistis. Perubahan langage menyembunyikan fictio juris. Lewat fictio juris itu, secara halus Chomsky melenyapkan persoalan tentang kondisi-kondisi ekonomi dan sosial yang membuat orang bisa menguasai kompetensi legitim, dan juga menghilangkan persoalan tentang konstitusi pasar. Dalam pasar itu ditetapkan dan diimposisikanlah definisi tentang mana yang legitim dan mana yang tidak legitim. Chomsky melenyapkan kedua persoalan itu dengan cara membuat hukum-hukum yang terdapat pada diskursus-diskursus legitim itu menjadi norma-norma universal yang mengatur praktik-praktik linguistis yang sesuai dengan norma-norma itu.
Langue ofisial dan unitas politik
Kita hendak mempelihatkan fakta bahwa para linguis tidak melakukan apapun kecuali menginkorporasikan suatu objek yang ter-pre-konstruksi ke dalam teorinya. Mereka melupakan hukum-hukum sosial konstruksi objek itu dan mereka menyembunyikan genesis sosial dari objek itu. Untuk memperlihatkan fakta itu, ada contoh yang terbaik untuk pembuktiannya. Yaitu paragraf-paragraf yang terdapat pada buku Cours de linguistique générale. Dalam buku itu, Saussure membicarakan hubungan-hubungan ada antara langue dan ruang [espace]. Di situ, Saussure merasa sudah membuktikan bahwa bukan ruang yang mendefinisikan langue, melainkan langue-lah yang mendefinisikan ruangnya. Karenanya maka ia melihat bahwa baik dialek-dialek maupun langue-langue memang tidak memiliki batas-batas natural. Batas-batas natural itu semacam dengan inovasi fonetis, misalnya penggantian c latin dengan s. Sebab batas-batas natural itu sendiri menentukan wilayah persebarannya dengan kekuatan intrinsek logikanya yang autonom, lewat keseluruhan para subjek penuturnya yang mau menjadikan diri mereka sebagai pembawa. Filsafat sejarah di atas membuat dinamika intern langue menjadi satu-satunya prinsip yang menentukan batas-batas persebarannya. Filsafat ini memuja proses unifikasi yang khas politik. Dengan unifikasi semacam itu sekelompok subjek penutur tertentu secara praktik menjadi diarahkan untuk menerima langue ofisial.
Langue saussurian adalah suatu kode yang sekaligus bersifat legislatif dan komunikatif. Kode ini ada di luar para penggunanya (yaitu “para subjek penutur”) dan berada di luar penggunaan-penggunaannya (“parole”). Karena itu langue saussurian memiliki segala proprietas yang umumnya diakui sebagai proprietas-proprietas yang dimiliki oleh langue ofisial. Langue saussurian berlawanan dengan dialek. Langue itu telah memanfaatkan kondisi-kondisi institusional yang harus ada untk kodifikasi dan imposisinya yang digeneralkan. Langue saussurian diakui dan diketahui (lebih-kurang secara lengkap) atas dukungan suatu autoritas politik tertentu. Karena itu maka langue itu pada gilirannya ikut memperkuat autoritas yang memberi dasar bagi dominasi yang dilakukannya. Faktanya, langue itu memastikan terus adanya minimum komunikasi. Minimum komunikasi itu adalah kondisi agar produksi dan dominasi simbolis bisa terus dilakukan. Dipastikannya minimum itu oleh langue dilakukan di antara semua anggota “komunitas linguistis”. Komunitas linguistis itu secara tradisional didefiniskan, menurut Bloomfield, sebagai “sekelompok orang yang menggunakan sistem signe-signe [tanda-tanda] linguistis yang sama”.
Berbicara tentang langue tanpa memperhitungkan hal-hal di luar langue, seperti yang dilakukan oleh para linguis, adalah sama dengan menerima diam-diam definisi ofisial atas langue ofisial yang dilakukan oleh suatu unitas politik. Langue itu adalah langue yang diberlakukan kepada semua warga sebagai satu-satunya langue yang legitim, dalam batas-batas teritorial unitas politik itu. Dan pemberlakuannya akan dilakukan dengan cara yang makin imperatif jika lingkungannya semakin ofisial (kata ofisial ini menterjemahkan dengan sangat tepat istilah formal yang digunakan oleh para linguis yang meneliti langue inggris). Langue diproduksi oleh para penulis [auteur] yang memiliki autoritas untuk menulis. Langue dibekukan dan dibuatkan kodenya oleh para ahli tatabahasa, para guru dan dosen yang ditugasi untuk menanamkan penguasaan langue itu dalam diri para murid. Oleh karena itu semua, maka langue adalah sebuah kode, yaitu angka [chiffre] yang membuat orang bisa membuat ekuivalensi-ekuivalensi antara bunyi-bunyi dan makna-makna. Selain itu langue adalah kode, dalam pengertian bahwa langue adalah sistem norma-norma yang mengatur praktik-praktik linguistis.
Langue ofisial memiliki bagian yang terikat dengan Negara. Hal itu memang demikian, baik dalam genesis maupun dalam penggunaan-penggunaan sosial langue itu. Ada proses konstitusi yang dilakukan orang untuk mendirikan negara. Dalam proses itulah tercipta kondisi-kondisi yang memungkinkan orang melakukan konstitusi untuk menghadirkan suatu pasar linguistis, yaitu pasar linguistis yang diunifikasi dan didominasi oleh langue ofisial. Langue ofisial itu wajib digunakan dalam kesempatan-kesempatan ofisial dan dalam ruang-ruang yang ofisial (Sekolah, administrasi publik, institusi politik, etc.). Karena itulah, maka langue Negara itu menjadi norma teori. Sehingga secara objektif semua praktik linguistis diukur dengan norma teori itu. Tidak seorangpun dan tidak sesuatupun diperbolehkan untuk mengabaikan hukum linguistis. Hukum linguistis itu memiliki tubuhnya dalam para ahli hukum, para ahli tatabahasa, dan para agen yang ditugasi untuk memastikan imposisi dan kontrolnya, yaitu para guru pengajar. Mereka semua dibekali dengan kekuasaan untuk meng-submisi-kan performansi linguistis para subjek penutur di bawah pemeriksaan dan sanksi juridis yang didukung oleh Sekolah.
Sebuah modus ekspresi yang tersedia di antara banyak modus ekpresi lain bisa saja diimposisikan sebagai satu-satunya modus ekspresi yang legitim. Modus ekspresi yang legitim itu misalnya imposisi sebuah langue ofisial dalam kasus bilingualisme, atau pemberlakuan suatu penggunaan tertentu atas langue dalam kasus suatu masyarakat yang terbagi-bagi menjadi kelas-kelas. Agar sebuah modus ekspresi menjadi legitim, maka pasar linguistis harus diunifikasi dan secara praktik perbedaan-perbedaan dialek (antar kelas, daerah atau etnik) diatur berdasarkan langue atau penggunaan yang legitim itu. Integrasi ke dalam suatu “komunitas linguistis” yang sama merupakan suatu produk dominasi politik yang terus direproduksi oleh intitusi-institusi yang mampu membuat orang memberikan pengakuan universal tentang langue dominan. Integrasi itu merupakan kondisi yang membuat orang bisa menghadirkan hubungan-hubungan dominasi linguistis.
Langue standar: suatu produk yang “dinormalkan”
Sebelum adanya industri besar, ada bermacam cabang pertukangan [artisanat]. Waktu itu, cabang-cabang itu merupakan “sedemikian banyak daerah-daerah berpagar” yang terpisah satu sama lain, kalau kita memakai istilah yang digunakan Marx. Hingga abad XVII ada banyak varian langue d’oïl [sebuah bahasa daerah, di Perancis] dan hingga sekarang masih ada banyak dialek regional, yang berbeda dari satu kampung ke kampung. Para dialektolog membuat peta yang menunjukkan ciri-ciri fonologis, morfologis dan leksikologis dari setiap varian dan dialek di setiap daerah. Varian langue d’oïl, dialek regional, ciri-ciri fonologis, morfologis dan leksikologis itu terdistribusi menurut wilayah geografis yang tidak sepenuhnya bisa cocok satu sama lain. Wilayah-wilayah itu jarang disesuaikan kecuali dengan penetapan-penetapan wilayah yang bersifat administratif atau religius. Sebetulnya, jika orang tidak melakukan objektivasi dengan menggunakan penulisan dan terutama jika orang tidak melakukan kodifikasi setengah juridis yang korelatif dengan konstitusi suatu langue ofisial, maka “langue-langue” hanya akan ada dalam keadaannya yang bersifat praktik, yaitu dalam bentuk habitus-habitus linguistis yang setidaknya diorkestrasi secara parsial dan dalam bentuk produksi-produksi oral habitus-habitus itu. Sekian lama orang hanya menuntut agar langue bisa memastikan suatu minimum interkomprehensi ketika terjadi pertemuan (jarang-jarang) yang dilakukan orang-orang yang berasal dari desa-desa yang berdekatan atau dari bermacam daerah. Waktu itu, yang diusahakan bukanlah dipilihnya suatu dialek menjadi norma bagi dialek-dialek lain (meskipun orang bisa saja menemukan adanya maksud afirmasi superioritas dalam perbedaan-perbedaan yang ditemukan).
Hingga jaman sebelum terjadinya Revolusi perancis, proses unifikasi linguistik dicampuraduk dengan proses konstruksi Negara monarki. Dialek-dialek kadang memiliki beberapa proprietas yang diakui orang ada pada “langue-langue” (sebagian besar dari langue-langue itu merupakan objek dari penggunaan tulis, akta notaris, pertimbangan-pertimbangan komunal, etc.). Langue-langue literer (seperti misalnya langue poetis dari negeri-negeri d’oc) secara progresif digantikan oleh langue komun sejak abad XIV sekurangnya di provinsi-provinsi tengah di negeri d’oïl. Langue-langue literer itu adalah sejenis “langue-langue buatan” yang berbeda dari dialek-dialek yang digunakan orang di seluruh wilayah, yang mempergunakan langue-langue literer itu. Langue komun itu dielaborasi di Paris di lingkungan-lingkungan yang ter-kultivasi [sangat berbudaya]. Langue komun itu dipromosikan untuk menjadi langue ofisial, sehingga digunakan dalam bentuk yang dibuat oleh penggunaan-penggunaan savant, yaitu bentuk tulis. Secara korelatif penggunaan-penggunaan yang bersifat populer dan murni oral atas dialek-dialek regional yang digantikan seperti itu jatuh menjadi “patois [cara ngomong lokal]”. Hal itu terjadi karena adanya parselisasi (yang terkait dengan bentuk tulis) dan desagregasi yang intens (peminjaman yang bersifat leksikal atau sintaksis). Desagregasi itu adalah produk dari devaluasi sosial yang dialami oleh dialek-dialek regional itu. Dialek-dialek itu dikhususkan hanya untuk orang-orang petani desa, sehingga didefinisikan secara negatif dan secara pejoratif dengan mengoposisikannya dengan penggunaan-penggunaan yang diistimewakan atau yang bersifat sastra (seperti yang dibuktikan oleh perubahan makna yang terjadi pada kata patois). Dulu patois adalah “langue yang tidak bisa dipahami”, lalu orang menganggap patois sebagai suatu “langage yang korup dan kasar, seperti misalnya langage yang digunakan oleh bangsa yang kecil”. Dictionnaire Furetière, 1690).
Situasi linguistis terjadi sangat berbeda di negeri-negeri yang menggunakan langue d’oc. Dialek Paris menggantikan dialek-dialek langue d’oc dalam akta-akta publik. Orang harus menunggu hal itu terjadi hingga abad XVI dan ketika orang sudah mengadakan konstitusi progresif suatu organisasi administratif yang terkait dengan kekuasaan kerajaan (terutama dengan munculnya banyak agen administratif tingkat bawah, misalnya lieutenant, viguier, hakim, etc.). Pemberlakuan langue perancis sebagai langue ofisial tidak berdampak melenyapkan penggunaan tulis dialek-dialek langue d’oc, baik sebagai langue administratif atau politik maupun sebagai langue literer (dengan pelestarian suatu sastra dialek-dialek langue d’oc pada waktu regim kuno berkuasa). Sementara dialek-dialek tersebut masih predominan dalam penggunaan oralnya. Dengan demikian maka suatu situasi bilinguisme menjadi ada. Para anggota kelas-kelas populer dan terutama orang-orang desa diarahkan agar hanya menggunakan cara omong lokal. Sementara para anggota aristokrasi, borjuasi perdagangan dan bisnis dan terutama para anggota borjuasi kecil yang terpelajar memiliki akses yang lebih besar untuk menggunakan langue ofisial, baik yang tulis maupaun yang lisan, tetapi mereka semua masih menggunakan dialeknya masing-masing, yang mereka gunakan dalam situasi publik atau pribadi. Penggunaan dialek semacam itu membuat dialek-dialek tersebut dikatakan hanya memenuhi fungsi sebagai langue-langue intermedier [perantara]. (Para anggota borjuasi terdidik itu pernah memberikan jawaban atas angket yang pernah dilakukan oleh biarawan Grégoire. Mereka pernah belajar di institusi-institusi unifikasi linguistis, yaitu kolese-kolese jesuit.)
Para anggota borjuasi-borjuasi lokal antara lain adalah para imam gereja Katolik, para dokter atau guru. Mereka mendapatkan posisinya karena mereka menguasai instrumen-instrumen ekspresi. Mereka mendapatkan segala yang bisa didapatkan dari politik unifikasi linguistis yang dilakukan dengan adanya Revolusi perancis. Promosi yang dilakukan orang untuk menaikkan status langue ofisial menjadi langue nasional membuat mereka de facto menguasai monopoli atas politik dan secara lebih general monopoli atas komunikasi dengan kekuasaan pusat dan para wakilnya. Para wakil kekuasaan pusat itulah yang menentukan para pejabat lokal, di bewah pemerintahan republik manapun [Perancis berturut-turut diperintah oleh republik pertama hingga republik kelima] di Perancis.
Langue legitim diperlawankan dengan idiom-idiom dan patois-patois. Pemberlakuan langue legitim itu merupakan bagian dari strategi-strategi politik yang ditujukan untuk memastikan pelestarian kemenangan-kemenangan yang telah didapatkan dengan Revolusi, yaitu strategi yang dilakukan lewat produksi dan reproduksi manusia baru. Condillac membuat teori yang menjadikan langue sebagai suatu metode. Teori itu membuat orang bisa menyamakan langue revolusioner dengan pemikiran revolusioner. Kita harus mereformasi langue, memurnikan penggunaan-penggunaannya agar bebas dari penggunaan-penggunaan masyarakat lama dan memberlakukan langue yang sudah dimurnikan dengan cara itu. Jika kita sudah melakukan hal-hal tersebut maka kita itu bisa dianggap memberlakukan suatu pemikiran yang telah dimurnikan dan disucikan. Ada orang yang mengaitkan politik unifikasi linguistis hanya dengan kebutuhan-kebutuhan teknis komunikasi yang harus dilakukan antar berbagai bagian wilayah negara dan terutama antara Paris dan provinsinya. Orang itu juga berpikir bahwa politik unifikasi linguistis itu hanya merupakan produk langsung dari suatu sentralisme negara yang memang ditujukan untuk melindas “partikularisme-partikularisme lokal”. Orang yang berpikir semacam itu naif. Ada konflik antara langue perancis yang digunakan oleh intellegentsia revolusioner dan idioma-idioma atau patois-patois. Konflik itu adalah konflik yang ada untuk memperebutkan kekuasaan simbolis. Taruhan konflik itu adalah formasi dan re-formasi struktur-struktur mental. Pendeknya, yang menjadi persoalan bukannya hanya komunikasi, tetapi tentang bagaimana membuat orang mengakui suatu diskursus autoritas baru. Diskursus autoritas baru itu hadir dengan kosakata politik baru, istilah-istilah sopan santun dan referensi, metafora-metafora, eufemisme dan representasi dunia sosial yang semuanya baru. Representasi dunia sosial itu diangkut ke mana-mana oleh diskursus autoritas baru tersebut. Representas itu tidak bisa dikatakan orang yang berbicara hanya dengan menggunakan dialek-dialek lokal, sebab representasi itu terikat pada kepentingan-kepentingan baru kelompok-kelompok baru, dan sebab dialek-dialek lokal itu terbentuk oleh penggunaan-penggunaan yang terikat pada kepentingan-kepentingan spesifik kelompok-kelompok orang desa.
Konstitusi suatu bangsa [nation] hanya akan terjadi ketika muncul penggunaan-penggunaan dan fungsi-fungsi langue tertentu, penggunaan-penggunaan dan fungsi-fungsi langue tersebut dulunya belum pernah ada. Bangsa adalah suatu kelompok yang sepenuhnya abstrak yang hadir atas dasar hukum. Juga langue standard menjadi harus ada ketika muncul penggunaan-penggunaan dan fungsi-fungsi langue tertentu itu. Langue standard itu bersifat impersonal dan anonim, sebagaimana bahwa penggunaan-penggunaan ofisial yang harus dilayaninya juga bersifat impersonal dan anonim. Dengan begitu, maka orang juga harus melakukan kerja normalisasi produk-produk habitus-habitus linguistis. Kamus adalah hasil terbaik dari kerja kodifikasi dan normalisasi itu. Lewat pencatatan yang bersifat savant, kamus mengumpulkan totalitas ressource-ressource linguistis yang telah terakumulasi sepanjang jaman dan terutama mengumpulkan semua penggunaan yang bisa dilakukan orang atas kata yang sama (atau mengunpulkan semua ekspresi yang bisa dibuat orang atas makna yang sama). Kamus melakukan pengumpulan di atas dengan cara menjejer-jejerkan semua penggunaan yang bersifat asing, bahkan bersifat eksklusif bagi orang kebanyakan (kecuali dengan menandai beberapa penggunaan yang telah diterima dengan suatu tanda eksklusi semacam Vx. [vieux, kuno], Pop. [populaire], atau Arg. [argotique, berkaitan dengan argot, penggunaan yang dilakukan oleh kelompok yang secara kultural minoritas, mislanya para remaja berandalan]). Dengan begitu, maka kamus menampilkan suatu image yang cukup tepat tentang langue dalam pengertian Saussure, “kumpulan yang dibuat dengan mengumpulkan semua gudang harta individual”: langue yang dinormalkan itu bisa berfungsi di luar batas dan keberadaan situasinya dan bisa digunakan dan diartikan oleh seorang pembicara dan pendengar manapun. Meskipun pembicara dan pendengar itu tidak kenal satu sama lain. Pemahaman semacam itulah yang diinginkan oleh tuntutan-tuntutan previsibilitas dan kalkulabilitas birokratis. Tuntutan-tuntutan tersebut mengadaikan adanya fungsioner dan klien yang bersifat universal. Yaitu fungsioner dan klien yang hadir tanpa kualitas apapun kecuali kualitas-kualitas yang diberikan oleh definisi administratif yang dilakukan atas status mereka.
Ada proses yang membuat orang melakukan elaborasi, legitimasi dan imposisi suatu langue ofisial. Dalam proses itu sistem sekolah memiliki suatu fungsi yang determinan: “Yaitu membikin kesamaan-kesamaan yang akan memunculkan komunitas [kebersamaan] kesadaran. Komunitas itulah yang merupakan semen perekat bangsa.” Georges Davy melanjutkan pembicaraan itu dengan menyebutkan fungsi guru [maître] sekolah, yaitu guru yang mengajar murid berbicara dan juga guru yang mengajar murid untuk berpikir. Fungsi guru itu adalah: “Ia (si pengajar) sehari-hari bekerja menjalankan fungsinya dengan cara mengajarkan kemampuan ekspresi segala gagasan dan kemampuan ekspresi segala emosi kepada murid-muridnya: yaitu mengajarkan langage [penggunaan bahasa]. Si pengajar itu mengajar anak-anak. Anak-anak itu tidak terlalu mengenalnya, dan mereka berbicara dengan dialek-dialek atau patois-patois yang bermacam-macam. Si pengajar itu mengajarkan langue yang sama kepada anak-anak itu, yaitu langue yang satu, jelas dan dibekukan. Dengan melakukan hal itu, si pengajar secara natural membuat anak-anak itu bisa melihat dan merasakan hal-hal dengan satu cara yang sama. Dengan begitu, maka si pengajar itu bekerja keras membangun kesadaran komun tentang bangsa [nation].” Teori yang dibuat Whorf ? atau teori yang dibikin oleh Humboldt ? tentang langage mendukung visi yang menyatakan bahwa aksi yang dilakukan sekolah memang ditujukan sebagai instrumen untuk melakukan “integrasi intelektual dan moral”, dalam pengertian Durkheim. Teori itu menampilkan suatu afinitas dengan filsafat durkheimian tentang konsensus. Afinitas itu dibuktikan dengan pergeseran yang membuat kata kode, yang berasal dari terminologi hukum, masuk ke dalam linguistik. Kode itu dipahami sebagai angka [chiffre], dan mengatur langue tulis. Langue tulis itu disamakan dengan langue yang benar, dan dioposisikan dengan langue lisan (conversational language). Langue lisan itu secara implisit dianggap lebih rendah. Dan dengan demikian, maka kode itu memiliki kekuatan hukum di dalam dan lewat sistem pengajaran.
Aksi yang dilakukan sistem pengajaran itu memang berhasil dalam hal luas cakupan dan intensitasnya di sepanjang abad XIX. Sistem pengajaran itu tentu ikut secara langsung dalam men-devaluasi modus-modus ekspresi populer. Modus-modus ekspresi populer itu ditolak hingga hanya menjadi “jargon” atau “charabia” (seperti yang dikatakan oleh catatan-catatan pinggir yang dibuat oleh para guru). Sistem pengajaran itu juga ikut berjasa dalam imposisi pengakuan atas langue legitim. Ada relasi dialektis antara Sekolah dan pasar kerja. Atau lebih tepatnya, ada relasi antara unifikasi pasar yang bersifat sekolah (dan bersifat linguistis) dan unifikasi pasar kerja. Unifikasi pasar sekolah dan linguistis itu terkait dengan intitusi yang dilakukan orang atas titel-titel sekolah yang memiliki nilai nasional. Nilai nasional itu, sekurangnya secara ofisial, tidak berkaitan dengan proprietas-proprietas sosial atau regional yang dimiliki oleh pembawanya. Sementara unifikasi pasar kerja itu hadir dengan adanya perkembangan administrasi dan korps fungsioner. Unifikasi pasar kerja itu memainkan peran yang paling determinan dalam devaluasi dialek-dialek dan dalam instaurasi hierarki baru penggunaan-penggunaan linguistis. Ada para pemilik kompetensi-kompetensi linguistis yang terdominasi. Mereka ikut bekerja menghancurkan instrumen-instrumen ekspresi mereka. Misalnya dengan memaksakan diri berbahasa “perancis” di depan anak-anak mereka atau dengan cara mengharuskan anak-anak itu berbicara “perancis” dalam keluarga. Dan hal itu dilakukan dalam maksud yang lebih-kurang eksplisit untuk menaikkan nilai mereka dalam pasar sekolah. Untuk membikin orang menjadi pemiliki kompetensi linguistis yang terdominasi itu, maka Sekolah harus diterima sebagai sarana akses utama, bahkan satu-satunya, untuk masuk menduduki jabatan-jabatan administratif. Jabatan-jabatan itu semakin dicari orang jika industrialisasi semakin lemah. Itu adalah konjungsi yang terjadi di negeri-negeri yang menggunakan “dialek” dan “idioma” (kecuali daerah-daerah Timur), dan bukan terjadi di negeri-negeri yang punya “patois” di separuh wilayah utara Perancis.
Unifikasi pasar dan dominasi simbolis
Kita harus waspada supaya jangan sampai melupakan kontribusi yang diberikan intensi politik unifikasi (yang juga bisa diamati di bidang lain, seperti bidang hukum) bagi fabrikasi langue yang diterima oleh para linguis sebagai suatu datum natural. Untuk itu, maka kita harus hati-hati supaya tidak menimpakan semua tanggung jawab kepada fabrikasi langue itu, atas terjadinya generalisasi penggunaan langue dominan. Generalisasi itu merupakan dimensi dari unifikasi pasar harta simbolis yang menyertai unifikasi ekonomi dan juga merupakan dimensi produksi dan sirkulasi kultural. Orang bisa melihat semua itu dalam kasus pasar pertukaran matrimonial. Dalam pasar itu ada produk-produk yang hingga saat itu ditujukan untuk disirkulasikan dalam benteng terlindung pasar-pasar lokal. Produk-produk itu menaati hukum pembentukan harganya sendiri. Ketika unifikasi itu terjadi, maka produk-produk itu tiba-tiba terdevaluasi oleh generalisasi kriteria evaluasi dominan dan oleh diskredit “nilai-nilai pedesaan [paysannes]”. Diskredit itu menyebabkan hancurnya nilai para laki-laki desa [paysans], sehingga seringkali mereka menjadi terkutuk tidak pernah kawin. Proses dari unifikasi, dari produksi, dan dari sirkulasi harta ekonomi dan kultural itu bisa dilihat di semua domain praktik (olah raga, nyanyian, pakaian, habitat, etc.). Proses itu menyebabkan terjadinya obsolesensi [ketinggalan jaman] yang progresif atas modus lama produksi habitus dan atas produk-produknya. Dengan begitu, maka bisa dipahami bahwa, seperti halnya yang sering diamati para sosiolinguis, para perempuan lebih bersemangat dalam mengadopsi langue legitim (atau pengucapan legitim): sebab perempuan memang sengaja dibikin taat dalam kaitannya dengan penggunaan-penggunaan dominan. Yang membuat mereka taat adalah divisi kerja antar seks dan logika perkawinan. Divisi kerja itu mengkhususkan perempuan dalam domain konsumsi. Sementara, logika perkawinan dianggap oleh para perempuan sebagai jalan utama bahkan eksklusif untuk menaikkan status sosial. Dalam logika perkawinan itu perempuan disirkulasikan dari bawah ke atas. Karena dibikin taat semacam itu, maka perempuan memang telah di-predisposisi-kan untuk menerima tuntutan-tuntutan baru pasar harta simbolis, pertama-tama ketika mereka di Sekolah.
Efek-efek dominasi memang korelatif dengan unifikasi pasar. Demikianlah, maka efek-efek dominasi itu hanya bisa diberlakukan lewat perantaraan sekumpulan institusi-institusi dan mekanisme-mekanisme spesifik. Di antara institusi dan mekanisme itu, terdapatlah politik yang khas linguistis. Dan intervensi-intervensi yang sengaja dilakukan kelompok-kelompok penindas hanya merupakan aspek yang paling superfisial. Ada fakta bahwa efek-efek dominasi itu mem-presuposisikan unifikasi politis atau ekonomis yang pada gilirannya juga dikuatkan oleh efek-efek dominasi itu sendiri. Fakta itu sama sekali tidak mengimplikasikan bahwa orang harus menganggap kemajuan langue ofisial sebagai hasil dari efikasitas [keberhasilan] langsung aturan-aturan juridis atau yang setengah juridis. (Aturan-aturan itu bisa memaksakan pembelajaran langue legitim, tetapi tidak bisa memaksakan penggunaan general dan reproduksi autonom langue legitim itu). Pada pihak mereka yang menjadi korban, setiap dominasi meng-suposisi-kan suatu bentuk kerjasama [complicité, persekongkolan]. Kerja sama itu bukanlah submisi pasif terhadap suatu kekangan dari luar, juga bukan merupakan adhesi bebas terhadap nilai-nilai tertentu. Pengakuan terhadap legitimitas langue ofisial tidak ada hubungannya dengan suatu keyakinan yang sengaja diikrarkan, yaitu keyakinan yang disengaja dan bisa dicabut; pengakuan itu bukan pula suatu tindakan intensional untuk menerima suatu “norma”. Pengakuan itu terdapat pada keadaan praktik, yaitu dalam disposisi-disposisi yang tertanam tanpa terasa, lewat suatu proses pembelajaran yang lama dan pelan-pelan, lewat sanksi-sanksi pasar linguistis. Jadi disposisi-disposisi itu memang disesuaikan dengan peluang-peluang keuntungan material material dan simbolis, tanpa ada hitungan sinis dan di luar segala aturan yang disetujui secara sadar. Ada hukum-hukum formasi harga-harga, harga-harga itu merupakan karakter bagi suatu pasar tertentu. Hukum-hukum formasi harga itulah yang menjanjikan secara objektif keuntungan material dan simbolis kepada para pemegang modal linguistis.
Ciri khas dominasi simbolis terdapat pada fakta bahwa dominasi itu mengandaikan suatu sikap dari pihak yang menjadi korban dominasi. Sikap itu adalah sikap yang tidak ada kaitannya dengan alternatif biasa antara kebebasan dan kekangan. “Pilihan” habitus (misalnya habitus suka mengkoreksi pengucapan r di hadapan lokutor legitim) memang diambil tanpa sadar dan tanpa paksaan berkat adanya beberapa disposisi. Disposisi-disposisi itu dihadirkan di luar kesadaran dan di luar kekangan, meski merupakan produk dari determinisme-determinisme sosial. Kecenderungan untuk menyamakan riset tentang sebab-sebab dengan riset tentang tanggung jawab akan menghalangi kita melihat bahwa intimidasi tidak bisa dilakukan atas seseorang yang telah di-predisposisi-kan (dalam habitusnya), yaitu ter-predisposisi untuk menyetujui intimidasi itu, sementara orang lain yang tidak ter-predisposisi akan mengabaikannya. Intimidasi adalah violensi simbolis yang tidak diketahui sebagaimana adanya (yaitu bahwa intimidasi itu bisa saja dilakukan tanpa mengimplikasikan tindakan intimidasi apapun). Akan lebih benar jika orang mengatakan bahwa sebab dari timiditas [ketakutan] terdapat pada relasi antara situasi orang yang meng-intimidasi (yang bisa menyangkal injungsi yang dilakukannya) dan orang yang di-intimidasi; atau, antara kondisi-kondisi sosial produksi yang menghasilkan orang yang mengintimidasi dan kondisi-kondisi sosial produksi yang menghasilkan orang yang di-intimidasi. Hal itu akan semakin membawa kita kepada seluruh struktur sosial.
Segalanya bisa membuat orang beranggapan bahwa instruksi-instruksi yang paling menentukan untuk melakukan konstruksi habitus bisa ditransmisikan tanpa melewati langage dan tanpa lewat kesadaran, yaitu lewat suggestion-suggestion yang memang terdapat dalam aspek-aspek yang kelihatannya paling insignifikan yang terdapat pada hal-hal, pada situasi-situasi atau praktik-praktik eksistensi biasa. Demikianlah, modalitas praktik-praktik, cara-cara memandang, menjaga diri, menjaga ketenangan, atau cara-cara bicara (“pandangan mata yang tidak berkenan”, “nada bicara”, atau “mimik wajah yang menyalahkan”, etc) memang dipenuhi dengan injungsi-injungsi. Injungsi-injungsi itu tidak akan sedemikian kuat dan sedemikian sulit untuk dihilangkan kecuali karena injungsi-injungsi itu tidak dikatakan dan tersembunyi. (Itulah kode rahasia yang disalahkan secara eksplisit, ketika terjadi krisis-krisis yang khas terjadi di rumah tangga, yaitu krisis remaja atau krisis pasangan: disproporsi yang terlihat antara violensi pemberontakan dan sebab-sebabnya terjadi karena aksi-aksi atau perkataan-perkataan yang paling remeh menjadi diterima dalam kesungguh-sungguhannya sebagai injungsi, intimidasi, sikap diam, sikap bertahan, ancaman; dan juga karena aksi-aksi atau perkataan-perkataan itu disalahkan dengan violensi yang sedemikian besar sehingga aksi-aksi atau perkataan-perkataan itu terus bekerja di luar kesadaran dan melampaui pemberontakan yang disebabkannya.) Ada kekuatan suggestion yang digunakan orang lewat hal-hal dan orang-orang. Dan kekuatan itu digunakan dengan mengatakan kepada anak bukan segala yang harus dilakukannya dengan perintah, melainkan dengan mengatakan siapa dia sebetulnya, sehingga anak itu akan terbawa menjadi siapa dia itu secara lama. Dan kekuatan itu adalah kondisi bagi berhasilnya segala jenis kekuasaan simbolis. Jenis-jenis kekuasaan simbolis itu bisa digunakan atas suatu habitus yang memang telah dipredisposisikan untuk menyetujui jenis-jenis kekuasaan simbolis itu. Relasi yang terjadi antara dua orang bisa saja menjadi sedemikian keadaannya, sehingga cukuplah bagi orang yang satu hadir memaksakan kepada orang yang lain suatu definisi tentang situasi dan tentang dirinya sendiri (misalnya sebagai pihak yang terintimidasi). Definisi itu akan semakin absolut dan tidak bisa dipersoalkan jika definisi itu menjadi tidak perlu diafirmasi. Orang yang satu bisa memaksakan definisinya itu tanpa menginginkan pemaksaan itu dan tanpa menyuruhnya.
Pengakuan yang dipaksakan violensi itu, yang tidak terlihat dan diam-diam itu, seringkali diungkapkan dalam deklarasi-deklarasi yang sengaja, seperti misalnya deklarasi-deklarasi yang membuat Labov bisa mengatakan bahwa orang bisa menemukan evaluasi bunyi r pada para lokutor dari berbagai kelas sosial, para lokutor itu menjadi jelas terlihat kelas sosialnya ketika mereka melakukan efektuasi [mengucapkan] bunyi r. Tetapi pengakuan itu tidak pernah terlihat jelas kecuali dalam semua koreksi baik yang sesekali maupun yang terus berlangsung. Lewat suatu usaha sia-sia untuk bisa melakukan koreksi, kaum yang terdominasi secara sadar atau tidak meng-submisikan aspek-aspek terstigmatisasi pengucapan, leksikon (dengan segala macam bentuk eufemisme) dan sintaksis mereka kepada koreksi-koreksi itu. Atau dalam kekacauan yang membuat mereka “kehilangan segala kemampuan mereka”, koreksi-koreksi itu membuat mereka tidak mampu “menemukan kata-kata mereka”, seolah tiba-tiba mereka kehilangan lidah mereka.
Perbedaan-perbedaan [écarts] distingtif dan nilai sosial
Demikianlah karena tidak mampu menemukan nilai spesial yang secara objektif diakui pada penggunaan legitim dan karena tidak menemukan dasar-dasar sosial privilese itu, maka kita akan selalu terkutuk untuk jatuh dalam salah satu dari dua kesalahan yang saling berlawanan: atau kita secara tidak sadar mengabsolutkan segala hal yang secara objektif bersifat relatif dan yang dalam hal ini bersifat arbitrer, yaitu mengabsolutkan penggunaan dominan, dengan cara mencari dasar nilai yang diakui pada penggunaan itu, terutama di pasar sekolah, hanya dalam proprietas-proprietas langue itu sendiri seperti misalnya dalam kompleksitas struktur sintaksisnya; atau kita tidak akan bisa lolos dari bentuk fetisisme itu kecuali untuk jatuh dalam keluguan sempurna relativisme savant [bersifat intelektual] yang lupa bahwa pandangan yang lugu bukanlah relativis, dengan cara menolak fakta legitimitas yang hadir lewat suatu relativisasi arbitrer penggunaan dominan, penggunaan domian itu secara sosial diakui sebagai legitim, dan bukan hanya diakui demikian oleh kaum dominan.
Untuk mereproduksi dalam diskursus savant, fetisisasi langue legitim yang dikerjakan dalam realitas seperti yang dilakukan Bernstein orang bisa melakukannya cukup dengan mendeskripsikan proprietas-proprietas “kode yang telah dielaborasi”, tanpa mengaitkan produk sosial itu dengan kondisi-kondisi sosial produksi dan reproduksinya, yaitu sekurangnya tanpa mengaitkan produk itu dengan kondisi-kondisi scolaires, seperti yang diharapkan dilakukan orang di bidang sosiologi pendidikan. Dengan demikian maka “kode yang dielaborasi” itu dijadikan norma absolut yang mengatur segala praktik linguistis. Praktik-praktik linguistis tersebut tidak bisa dipikirkan kecuali dalam logika deprivasi. Ada ketidaktahuan tentang segala yang didapatkan penggunaan populer dan penggunaan savant dari relasi-relasi objektif penggunaan-penggunaan itu dan dari struktur hubungan dominasi antar kelas. Struktur hubungan antar kelas itu direproduksi oleh penggunaan-penggunaan itu dalam logika yang khas bagi masing-masing penggunaan itu. Ketidaktahuan itu membuat orang meng-kanonisasi sebagaimana adanya “langue” yang digunakan kelas-kelas yang terdominasi. Ke arah inilah Labov melangkah ketika keinginan untuk merehabilitasi “langue populer” melawan para ahli teori tentang deprivasi membuatnya mengoposisikan verbositas dan verbiage sombong yang dilakukan oleh para remaja borjuis, dengan presisi dan konsisi yang dimiliki oleh anak-anak yang hidup di ghetto kulit hitam. Hal itu bisa membuat orang melupakan bahwa “norma” linguistis diberlakukan atas semua nggota suatu “komunitas linguistis”, dan pemberlakuan itu dilakukan terutama di pasar sekolah dan dalam semua situasi ofisial. Dalam situasi-situasi ofisial itu verbalisme dan verbositas dilakukan dengan sangat kaku. Kenyataan itu diperlihatkan Labov sendiri (dengan menggunakan contoh para emigran yang baru masuk ke suatu negara baru, mereka ini sangat keras dalam menyalahkan aksen-aksen yang devian, yaitu aksen-aksen mereka sendiri).
Unifikasi politik dan imposisi korelatif suatu langue ofisial menghadirkan beberapa relasi di antara bermacam penggunaan langue itu. Relasi-relasi itu secara absolut berbeda dari relasi-relasi yang dijelaskan dalam teori (seperti misalnya relasi antara mouton dan sheep yang disebutkan Saussure untuk memberi contoh tentang arbitrer-nya signe), yaitu relasi-relasi antara beberapa langue yang berbeda, yaitu langue-alngue yang dipakai oleh kelompok-kelompok yang secara politik dan ekonomi tidak saling bergantung. Semua praktik linguistis diukur dengan menggunakan praktik-praktik yang legitim. Ada sistem varian-varian yang hadir bersama-sama dalam praktik. Sistem itu diinstitusikan secara real setiap waktu. Dalam sistem itulah kondisi-kondisi ekstra-linguistis ikut dalam konstitusi suatu pasar linguistis. Sehingga, ditentukanlah nilai probabel yang dijanjikan secara objektif kepada produksi-produksi linguistis yang dilakukan oleh bermacam lokutor, dan dengan demikian, dijanjikan jugalah hubungan yang bisa dimiliki oleh masing-masing lokutor itu dengan langue dan sekaligus dengan produksi langue itu.
Demikianlah, misalnya, perbedaan-perbedaan linguistis yang membedakan orang-orang yang berasal dari bermacam daerah tidak lagi menjadi partikularisme-partikularisme yang tidak bisa diukur bersama. Perbedaan-perbedaan linguistis itu de facto dibandingkan dengan ukuran tunggal langue “komun”. Sehingga, perbedaan-perbedaan itu dilemparkan dalam neraka yang berisi regionalisme-regionalisme, “ekspresi-ekspresi jahat dan kesalahan-kesalahan pengucapan”. Neraka regionalisme, “ekspresi-ekspresi buruk dan kesalahan-kesalahan pengucapan” itu dikutuk oleh para guru sekolah. Penggunaan-penggunaan populer atas langue ofisial direduksi hingga statusnya hanya sebagai jargon-jargon yang memunculkan patois atau yang vulgar, yang sangat tidak pantas untuk digunakan dalam acara-acara ofisial. Karena itulah maka penggunaan-penggunaan semacam itu pasti mengalami devaluasi yang sistematis. Suatu sistem yang terdiri dari oposisi-oposisi linguistis yang secara sosiologis bersifat pertinen cenderung menjadi suatu sistem yang sama sekali lain daripada sistem oposisi-oposisi linguistis yang secara linguistis memang pertinen. Dengan kata lain, perbedaan-perbedaan yang dimunculkan oleh konfrontasi yang terjadi antar bermacam cara bicara tidak akan sama dengan perbedaan-perbedaan yang dijelaskan oleh linguis dengan menggunakan kriteria pertinensinya sendiri. Bagian fungsionemen langue yang tidak mengalami variasi bisa saja besar. Tetapi, dalam hal pengucapan, leksikon dan tatabahasa, tetap ada sejumlah perbedaan yang secara signifikatif diasosiasikan dengan perbedaan-perbedaan sosial. Perbedaan-perbedaan sosial itu tidak diperhitungkan oleh linguis. Tetapi perbedaan-perbedaan itu bersifat pertinen dari titik pandang sosiolog, sebab perbedaan-perbedaan sosial itu memang masuk dalam suatu sistem oposisi-oposisi linguistis. Sistem oposisi-oposisi linguistis itu merupakan retraduksi [penterjemahan ulang] yang dilakukan atas suatu sistem yang terdiri dari perbedaan-perbedaan sosial. Ada suatu sosiologi struktural yang diinstruksikan oleh Saussure, tetapi yang dikonstruksi untuk melawan abstraksi yang dilakukannya. Sosiologi struktural itu harus memiliki objek yang berupa suatu relasi, relasi itu menyatukan beberapa sistem yang terstruktur yang terdiri dari perbedaan-perbedaan linguistis yang pertinen secara sosiologis dan juga menyatukan beberapa sistem yang juga terstrukturasi yang terdiri dari perbedaan-perbedaan sosial.
Penggunaan-penggunaan yang bersifat sosial atas langue pastilah mendapatkan nilainya yang khas bersifat sosial dari fakta bahwa penggunaan-penggunaan tersebut cenderung diorganisasikan menjadi sistem-sistem perbedaan-perbedaan (antara varian-varian prosodis dan artikulatori, atau antara varian-varian leksikologis dan sintaksis). Sistem-sistem perbedaan itu mereproduksi sistem perbedaan-perbedaan sosial, dalam tatanan simbolis perbedaan-perbedaan diferensial. Berbicara adalah sama dengan mengapropriasi salah satu gaya ekspresif yang sudah dikonstitusikan dalam dan lewat penggunaan dan yang dimarkai secara objektif lewat posisi gaya-gaya itu dalam suatu hierarki gaya-gaya. Dalam tatanannya, hierarki itu memperlihatkan hierarki kelompok-kelompok yang memiliki masing-masing gaya. Gaya-gaya itu dalah sistem-sistem perebedaan-perbedaan. Perbedaan-perbedaan itu dikelas-kelaskan dan mengkelas-kelaskan orang, dihierarkikan dan menghierarkikan. Gaya-gaya itu memarkai mereka yang telah mengapropriasinya. Stilistika spontan gaya-gaya itu dilengkapi dengan suatu makna praktik ekuivalensi-ekuivalensi yang terdapat di antara dua tatanan perbedaan-perbedaan. Stilistika itu menguasai kelas-kelas sosial dengan menggunakan kelas-kelas indeks-indeks stilistis yang ada padanya.
Orang mengistimewakan konstanta-konstanta yang secara linguistis bersifat pertinen dengan mengorbankan variasi-variasi yang secara sosiologis signifikatif untuk mengkonstruksi artefak yang adalah langue. Dengan melakukan pengistimewaan itu, maka orang berlaku seolah kapasitas untuk berbicara bisa diidentikkan dengan cara yang secara sosial dikondisikan untuk merealisasikan kapasitas natural. Kapasitas untuk berbicara itu sedikit banyak tersebar secara universal. Cara yang secara sosial dikondisikan untuk merealisasikan kapasitas natural itu memiliki sedemikian banyak varietas yang berasal dari kondisi-kondisi sosial akuisisinya. Kompetensi yang memadai untuk memproduksi kalimat-kalimat yang bisa dipahami bisa saja sama sekali tidak cukup untuk memproduksi kalimat-kalimat yang akan didengarkan orang, yaitu kalimat-kalimat yang layak untuk diakui sebagai yang bisa diterima dalam semua situasi, yang di dalamnya orang harus bicara. Di sini, akseptibilitas sosial direduksi hanya sebagai gramatikalitas. Para lokutor yang tidak memiliki komptensi legitim pastilah tersingkir dari dunia-dunia sosial yang menuntut penguasaan kompetensi itu, atau lokutor semacam itu akan dihukum supaya tidak pernah bicara. Jadi, yang langka bukanlah kapasitas untuk berbicara. Kapasitas berbicara itu terdapat pada warisan biologis, sehingga bersifat universal dan sehingga bersifat non distingtif. Yang langka adalah kompetensi yang harus dimiliki untuk bisa berbicara dengan menggunakan langue yang legitim. Langue legitim itu bergantung pada warisan sosial, sehingga bisa mentraduksikan distingsi-distingsi sosial ke dalam logika yang khas simbolis yang mengatur perbedaan-perbedaan diferensial, atau pendeknya ke dalam logika simbolis distingsi.
Konstitusi suatu pasar linguistis menciptakan kondisi-kondisi bagi suatu perlombaan objektif. Dalam dan lewat perlombaan itu, kompetensi yang legitim bisa berfungsi sebagai modal linguistis. Setiap kali terjadi pertukaran sosial, maka modal linguistis itu bisa menghasilkan suatu keuntungan distingsi. Keuntungan itu tidak secara eksklusif sesuai dengan biaya formasi, sebab keuntungan itu muncul karena kelangkaan produk-produk (dan kompetensi-kompetensi yang sesuai dengan produk-produk itu).
Biaya formasi bukanlah suatu pengertian yang simpel dan netral secara sosial. Pada bermacam derajat yang bisa berubah sesuai dengan tradisi sekolah, jaman dan disiplin ilmu, biaya formasi mencakup pembelanjaan-pembelanjaan yang secara luas lebih besar daripada minimum yang diperlukan “secara teknis” untuk memastikan dilakukannya transmisi kompetensi yang sesungguhnya. (Jika keadaannya sedemikian sehingga orang bisa membuat suatu definisi yang secara ketat bersifat teknis tentang formasi yang harus ada dan memadai untuk memenuhi suatu fungsi dan tentang fungsi itu sendiri, terutama hal itu terjadi jika kita tahu apa yang disebut “jarak ke peran” ? yaitu jarak ke fungsi ? semakin banyak masuk ke dalam definisi tentang fungsi asalkan kita naik semakin tinggi dalam hierarki fungsi-fungsi.) Bisa jadi itu terjadi karena misalnya lama studi yang dilakukan (yang bisa dipakai sebagai ukuran biaya ekonomi yang dihabiskan untuk formasi) cenderung dinilai untuk lama studi itu sendiri, terlepas dari hasilnya (hasil itu kadang penting di antara “sekolah-sekolah elit”, yaitu sejenis perlombaan daam hal memperpanjang siklus-siklus studi). Bisa juga hal itu terjadi karena kualitas sosial dari kompetensi yang didapatkan itu hadir sebagai yang tidak bisa dipisahkan dari lamanya penguasaan kompetensi itu, sebab dua pilihan itu tidak inklusif, sebab studi-studi yang pendek atau dipercepat selalu dicurigai memberikan marka-marka pemaksaan atau ketergesa-gesaan atas produk-produknya. Kualitas sosial kompetensi yang didapatkan itu dimarkai agar bisa dipakai untuk modalitas simbolis praktik-praktik. Konsumsi pembelajaran yang dipamer-pamerkan itu (yaitu konsumsi waktu) masuk dalam nilai yang secara sosial dilekatkan pada suatu kompetensi yang dijamin secara sosial (pada jaman sekarang, yaitu kompetensi yang “disertifikasi” oleh sistem sekolah). Konsumsi tersebut merupakan pemborosan teknis yang sangat jelas yang memenuhi beberapa fungsi sosial legitimasi.
Keuntungan distingsi berasal dari fakta bahwa penawaran produk-produk (atau penawaran para lokutor) yang sesuai dengan suatu tingkat kualifikasi linguistis tertentu (atau secara umum kualifikasi kultural) memang lebih rendah daripada jika semua lokutor menikmati kondisi-kondisi akuisisi kompetensi legitim pada derajat yang sama dengan derajat yang dinikmati oleh para pemegang dari kompetensi yang paling langka. Oleh karena itu, maka keuntungan itu didistribusikan secara logis sebagai fungsi dari peluang-peluang akses untuk masuk ke kondisi-kondisi itu, yaitu sebagai fungsi dari posisi yang diduduki dalam struktur sosial.
Kita melangkah sejauh mungkin. Meskipun ada beberapa kenampakan yang berasal dari model saussurian tentang homo linguisticus. Homo linguisticus ini sama dengan subjek ekonomi tradisi walrasian. Homo linguisticus ini secara formal memang bebas dalam menentukan produksi-produksi verbalnya (bebas misalnya untuk mengatakan papo untuk chapeau [topi], seperti yang dilakukan anak-anak) tetapi jika begitu, maka produksi-produksi itu tidak bisa dimengerti, tidak bisa dipertukarkan, tidak bisa dikomunikasikan kecuali jika sudah disesuaikan dengan aturan-aturan kode bersama. Pasar yang digagas secara saussurian itu tidak mengenal apapun kecuali perlombaan yang murni dan sempurna yang dilakukan di antara para agen. Para agen itu bersifat bisa saling dipertukarkan, demikian juga dengan produk-produk yang dipertukarkan oleh agen-agen itu dan “situasi-situasi” yang di dalamnya mereka melakukan pertukaran. Semua orang secara identik tunduk kepada prinsip maksimisasi pendapatan informatif (seperti tunduk pada prinsip maksimisasi kegunaan pada pasar ekonomi biasa). Oleh sebab itulah, pasar lingistis semacam itu sangat jauh dari pasar linguistis yang real, sebagaimana halnya pasar “murni” yang dipikirkan para ahli ekonomi sangat jauh dari pasar ekonomi real, sebab pasar ekonomi yang real itu hadir dengan monopoli dan oligopolinya. Tentang hal itu nanti kita akan melihat lebih jauh.
Kepada efek khas kelangkaan distingtif, perlu ditambahkan juga fakta bahwa di sini kita berurusan bukan dengan suatu dunia relativis yang berisi perbedaan-perbedaan yang bisa saling merelatifkan, tetapi bahwa kita berurusan dengan suatu dunia yang terhierarki yang berisi perbedaan-perbedaan yang muncul akibat adanya suatu bentuk diskursus yang (sedikit banyak) diakui secara universal sebagai bentuk yang legitim. Yaitu bahwa bentuk diskursus itu diakui sebagai ukuran nilai bagi produk-produk linguistis. Kompetensi dominan hanya akan berfungsi sebagai suatu modal linguistis yang memastikan diperolehnya suatu keuntungan distingsi dalam relasinya dengan kompetensi-kompetensi lainnya, jika secara kontinu kondisi-kondisi wajibnya terus ada. Kondisi-kondisi wajib itu adalah unifikasi pasar dan distribusi yang tidak merata peluang-peluang akses kepada instrumen-instrumen produksi kompetensi legitim dan kepada tempat-tempat ekspresi legitim. Kondisi-kondisi itu harus selalu ada supaya kelompok-kelompok yang menguasai kompetensi itu sanggup memaksakan kompetensi itu sebagai satu-satunya kompetensi yang legitim yang bisa digunakan di pasar-pasar ofisial (pasar kesenangan duniawi, pasar sekolah, pasar politik, pasar administratif) dan dalam sebagian besar interaksi-interaksi linguistis yang melibatkan pasar-pasar itu.
Itulah yang membuat mereka yang ingin mempertahankan suatu modal linguistis yang terancam menjadi terjebak dalam suatu pertarungan total. Modal semacam itu jaman sekarang di Perancis misalnya adalah pengetahuan tentang langue-langue kuno. Nilai kompetensi tidak bisa diselamatkan kecuali dengan menyelamatkan pasarnya, yaitu dengan menyelamatkan keseluruhan kondisi-kondisi politik dan sosial yang memungkinkan terus berlangsungnya produksi yang menghasilkan para produktor-konsumptor. Para pembela langue latin atrau dalam konteks lain para pemberla langue perancis atau arab seringkali bertindak seolah langue yang mereka bela bisa memiliki suatu harga tertentu di luar pasar, yaitu seolah langue yang mereka bela itu memiliki nilai karena kekuatan yang ada pada langue itu sendiri (misalnya kualitas-kualitas “logis-“nya). Tetapi pada praktiknya, mereka mempertahankan pasarnya. Sistem pengajaran memberikan tempat bagi bermacam langue (yang kandungan kulturalnya bermacam-macam). Tempat yang diberikan itu tidak akan menjadi suatu pertaruhan yang sedemikian penting kecuali karena institusi pengajaran itu memang memegang monopoli atas produksi massif yang menghasilkan para produktor-konsumptor, jadi institusi itu juga menguasai monopoli atas reproduksi pasar. Padahal nilai sosial kompetensi linguistis, yaitu kapasitas kompetensi linguistis itu untuk berfungsi sebagai modal linguistis bergantung kepada pasar itu.
Lapangan literer dan pertarungan untuk memperebutkan autoritas linguistis
Ada struktur lapangan linguistsi yang dipandang sebagai sistem hubungan-hubungan kekuatan yang khas linguistis. Hubungan-hubungan itu hadir atas dasar distribusi tidak merata modal linguistis (atau jika lebih suka, distribusi tidak merata kesempatan untuk meng-inkorporasi-kan sumberdaya-sumberdaya linguistis objektif). Dengan perantaraan struktur lapangan linguistis itulah struktur ruang gaya-gaya ekspresif mereproduksi dalam tatanannya struktur perbedaan-perbedaan [écarts] yang memisahkan secara objektif bermacam-macam kondisi eksistensi. Kita perlu memahami sepenuhnya struktur lapangan itu dan khususnya kita perlu memahami eksistensi suatu sub-lapangan produksi yang terbatas, sub-lapangan itu berada di tengah produksi linguistis. Sub-lapangan itu mendapatkan proprietas-proprietas fundamentalnya dari fakta bahwa di sub-lapangan itu para produktor memproduksi proprietas-proprietas itu untuk para produktor lain. Untuk itu semua, maka kita perlu membedakan antara modal yang harus dimiliki untuk memproduksi suatu cara omong [parler] ordiner yanglebih kurang sudah legitim dam modal yang berupa instrumen-instrumen ekspresi. Modal yang berupa instrumen-instrumen ekspresi mengsyaratkan apropriasi sumberdaya-sumberdaya yang disimpan dalam bentuk yang terobjektifkan di perpustakaan, buku, dan terutama dalam buku-buku “klasik”, buku tatabahasa dan kamus. Modal yang berupa instrumen-instrumen ekspresi itu harus dimiliki untuk melakukan produksi suatu diskursus tertulis yang layak dipublikasikan, yaitu diskursus tulis yang sudah di-ofisial-kan. Produksi instrumen-instrumen produksi itu misalnya fugur-figur kata dan pemikiran, jenis, cara atau gaya yang legitim, dan secara general semua diskursus yang ditujukan “untuk menjadi autoritas” dan untuk dikutip sebagai contoh “penggunaan yang baik”. Produksi instrumen-instrumen produksi itu memberikan kepada siapapun yang melakukan produksi itu suatu kekuasaan atas langue dan dengan cara itu memberikan suatu kekuasaan atas para pengguna biasa langue itu dan juga kekuasaan atas modal yang dimilikioleh para pengguna biasa itu.
Langue legitim tidak mengandung dalam dirinya kekuatan untuk memastikan perpetuasinya dalam waktu, juga tidak memiliki kekuatan untuk menentukan ekstensinya dalam ruang. Ada sejenis penciptaan yang dikontinukan yang dilakukan dalam pertarunga-pertarungan tanpa henti yang terjadi di antara bermacam autoritas. Autoritas-autoritas itu terlibat dalam perlombaan untuk memperebutkan monopoli imposisi modus ekspresi legitim, di tengah lapangan produksi yang terspesialisasikan. Hanya penciptaan yang dikontinukan sejenis itulah yang bisa memastikan permanensi langue legitim dan permanensi nilai langue itu. Nilai itu adalah pengakuan yang diberikan kepada langue itu. Pengakuan itu adalah satu dari beberapa proprietas generik yang dimiliki oleh lapangan-lapangan, yaitu bahwa pertarungan untuk memperebutkan taruhan spesifik menyembunyikan kolusi objektif tentang prinsip-prinsip permainannya. Dan lebih tepatnya, pengakuan itu adalah proprietas yang menunjukkan bahwa pertarungan tersebut cenderung terus memproduksi dan mereproduksi permainan dan pertaruhan dengan cara mereproduksi adhesi [dukungan] praktik kepada nilai dari permainan dan dari pertaruhannya, nilai itu menentukan pengakuan legitimitasnya, , nilai itu menentukan pengakuan legitimitasnya, tama-tama di kalangan mereka yang terlibat langsung, tetapi tetapi juga di kalangan lain. Apa yang akan terjadi pada kehidupan literer jika orang mulai bertengkar bukan tentang nilai dari gaya sorang penulis, tetapi tentang nilai dari pertengkaran tentang gaya? Permainan akan berhenti jika kita mulai mempersoalkan apakah permainan itu memang sangat penting. Ada pertarungan-pertarungan yang memperlawankan para penulis tentang seni menulis legitim. Dengan keberadaannya, pertarungan-pertarungan itu ikut dalam memproduksi langue legitim dan keyakinan orang atas legitimitas langue itu. Langue legitim didefinisikan dengan menggunakan jarak yang memisahkannya dari langue “komun”.
Di sini, yang menjadi soal bukanlah kekuasaan simbolis yang sering digunakan para penulis, para ahli tatabahasa dan para pendidik atas langue secara individu. Kekuasaan simbolis itu jauh lebih sempit daripada kekuasaan yang bisa mereka gunakan atas kebudayaan (misalnya dengan memberlakukan suatu definisi baru tentang literatur legitim, yang bisa mentransformasi “situasi” pasar). Yang dipersoalkan di sini adalah kontribusi yang diberikan oleh para penulis, para ahli tatabahasa dan para pendidik itu kepada produksi, kepada konsekrasi dan kepada imposisi suatu langue yang disting dan distingtif, di luar segala usaha untuk membikin distingsi. Ada kerja kolektif yang dilakukan lewat pertarungan-pertarungan yang dilakukan untuk memperebutkan arbitrium et jus et norma loquendi [ketepatan dan norma bicara yang dimiliki oleh wasit] yang dibicarakan Horatius. Ada para penulis, yang merupakan autor yang sudah diautorisasi. Ada para ahli tatabahasa, yang merupakan pemegang monopoli konsekrasi dan kanonisasi para penulis dan penulisan yang legitim. Para ahli tatabahasa itu ikut dalam mengkonstruksi langue legitim dengan cara melakukan seleksi di antara produk-produk yang ada produk-produk yang layak untuk dikonsekrasi dan diinkorporasikan ke dalam kompetensi legitim dengan cara menanamkannya ke pikiran orang lewat sekolah. Selain itu, konstruksi itu dilakukan juga dengan cara membuat produk-produk itu mengalami suatu kerja normalisasi dan kodifikasi yang membuat produk-produk itu bisa dikuasai secara sadar dan bisa mudah direproduksi lagi. Lewat kerja kolektif di atas, para penulis itu harus diperhitungkan bersama para ahli tatabahasa tersebut. Para ahli tatabahasa itu bisa mendapatkan para sekutunya di antara para penulis resmi dan akademi-akademi. Para ahli tatabahasa diberi kekuasaan untuk membangun norma-norma dan memberlakukannya. Karena itulah, maka mereka cenderung mengkonsekrasikan dan mengkodifikasi suatu penggunaan partikular langue dengan cara “membuatkan rasio-nya” dan membuatnya rasional. Dengan demikian, mereka juga ikut dalam menentukan harga yang bisa dimiliki oleh bermacam produk linguistis yang dihasilkan oleh bermacam pengguna langue di bermacam pasar, terutama di pasar-pasar yang paling langsung berada di bawah kontrol langsung atau tidak langsung mereka, seperti pasar sekolah. Mereka ikut menentukan harga itu dengan cara men-delimitasi lingkungan pengucapan, kata-kata atau bentuk-bentuk tuturan yang bisa diterima, dan dengan cara menetapkan suatu langue yang sudah disensor dan dimurnikan dari segala penggunaan populer dan terutama suatu langue yang sudah disensor dan dimurnikan dari segala penggunaan populer yang terbaru.
Ada variasi-variasi korelatif bermacam konfigurasi hubungan kekuatan yang terdapat di antara bermacam autoritas. Autoritas-autoritas itu terus bertarung dalam lapangan produksi literer dengan saling mengklaim dengan menggunakan prinsip-prinsip legitimasi yang sangat berbeda-beda. Variasi-variasi di atas tidak bisa menyembunyikan invarian-invarian struktural. Dalam situasi-situasi historis yang sangat bermacam-macam, invarian-invarian itu mengharuskan para protagonis itu supaya menggunakan strategi-strategi yang sama dan argumen-argumen yang sama, agar bisa mengafirmasi dan melegitimasi pretensi mereka untuk memberikan hukum atas langue dan untuk mengutuk langue para saingannya. Demikianlah, untuk melawan “penggunaan yang indah” kaum awam dan untuk melawan pretensi para penulis yang ingin menguasai pengetahuan campuraduk penggunaan yang baik, maka para ahli tatabahasa itu selalu menyebutkan penggunaan yang ber-rasio, yaitu “makna langue” yang terkandung dalam prinsip “rasio” dan “selera” yang sangat penting bagi tatabahasa. Sementara para penulis, mereka memiliki pretensi-pretensi yang diafirmasikan terutama dengan romantisme. Mereka mengedepankan kejeniusan untuk melawan aturan, dengan cara mengakui bahwa mereka memang akan selalu mengabaikan peringatan-peringatan tentang tatanan, yang diserukan oleh mereka yang disebut para “grammatistes” oleh Hugo.
Peniadaan kepemilikan objektif yang dialami kelas-kelas tyang terdominasi bisa saja tidak pernah diinginkan hingga terjadi seperti itu oleh seorangpun dari para aktor yang terlibat dalam pertarungan-pertarungan literer (dan diketahui bahwa selalu ada para penulis yang berusaha memuji-muji langue yang digunakan oleh “para tukang kunci Port au Foin”, “mengenakan topi merah pada kamus” atau meniru-niru cara-cara bicara populer).harus dikatakan juga bahwa deposesi itu bukannya tidak memiliki hubungan dengan keberadaan suatu korps yang beranggotakan para profesional. Para profesional itu secara objektif memiliki monopoli atas penggunaan legitim langue legitim. Untuk penggunaan mereka sendiri, para profesional itu memproduksi suatu langue spesial. Langue spesial itu dibikin untuk par surcroît memenuhi suatu fungsi sosial. Yaitu fungsi sosial distingsi dalam hubungan-hubungan yang terjadi di antara kelas-kelas dan dalam pertarungan-pertarungan. Yaitu pertarungan-pertarungan yang memperlawankan kelas-kelas itu di lapangan langue. Juga, deposesi itu memiliki hubungan dengan keberadaan sebuah institusi seperti sistem pengajaran. Sistem pendidikan itu diberi mandat untuk atas nama tata bahasa memberi sanksi bagi produk-produk heretis, dan untuk menanamkan norma eksplisit ke dalam diri orang. Norma eksplisit itu melawan efek-efek hukum evolusi, ikut membuat penggunaan-penggunaan yang terdominasi menjadi seperti itu dengan cara menguduskan penggunaan dominan sebagai satu-satunya yang legitim, yaitu dengan cara menanamkannya ke dalam diri orang. Orang bisa saja menghubungkan secara langsung aktivitas para penulis atau para profesor dengan efek yang ditimbulkan oleh aktivitas itu. Efek itu adalah terjadinya devaluasi langue komun. Devaluasi menghadirkan adanya suatu langue literer. Mereka yang terlibat dalam lapangan literer menjadi ikut mendukung terjadinya dominasi simbolis, jika efek-efek yang dilekatkan pada dominasi simbolis itu oleh posisi mereka di lapangan itu dan oleh kepentingan-kepentingan mereka itu membuat mereka mengusahakan, selalu menyembunyikan efek-efek ekstern yang muncul, menyembunyikannya untuk diri mereka sendiri dan untuk orang lain. Efek-efek ekstern itu muncul dari peremehan itu.
Proprietas-proprietas yang menjadi karakter dari ekselensi linguistis berkaitan dengan dua kata, yaitu distingsi dan koreksi. Ada kerja yang dilakukan di lapangan literer. Kerja itu memproduksi kenampakan-kenampakan suatu langue yang original, dengan cara bergerak maju menuju sekelompok derivasi. Sekelompok derivasi itu prinsipnya adalah suatu penyimpangan [écart] dalam hubungannya dengan penggunaan-penggunaan yang lebih sering ditemukan, yaitu penggunaan-penggunaan “komun”, “ordiner”, “vulgar”. Nilainya selalu berasal dari penyimpangan, yaitu elektif atau tidak, dalam hubungannya dengan penggunaan yang lebih tersebar luas, “tempat-tempat komun”, “perasaan-perasaan ordiner”, cara “trivial”, ekspresi “vulgar”, gaya yang “gampang”. Tentang penggunaan-penggunaan langue sebagai gaya-gaya hidup, definisinya pasti bersifat relasional. Ada langage “yang dibikin-bikin”, “terpilih”, bersifat bangsawan”, “luhur”, “penuh gaya”, “didukung”, “dibedakan”. Langage itu mengandung suatu referensi negatif (kata-kata yang digunakan untuk menyebut langage itu memperlihatkan referensi negatif itu) kepada langage “commun”, “courant”, “ordinaire”, “parlé [lisan]”, “familier”, atau lebih jauh, “populaire”, “cru [mentah]”, “grossier [kasar]”, “bebas”, “trivial”, “vulgaire” (itu belum dengan menyebutkan langage yang innomable, yaitu “charabia” atau “jargon”, “petit-nègre [negro kecil]” atau “sabir”). Lewat oposisi-oposisi itu maka muncullah serangkaian kata-kata negatif itu. Oposisi-oposisi itu diambil dari langue legitim, sehigga diorganisasikan dari titik pandang kaum dominan. Oposisi-oposisi itu bisa digolongkan dalam dua kelompok. Yaitu oposisi antara yang “dibedakan [distingué]” dan yang “vulgar” (atau yang “langka” dan yang “komun [di mana-mana ada]”), dan oposisi antara yang “tendu [terarah]” (atau yang “soutenu [didukung]”) dan “relâché [longgar]” (atau “libre [bebas]”). Oposisi antara yang “tendu [terarah]” (atau yang “soutenu [didukung]”) dan “relâché [longgar]” (atau “libre [bebas]”) itu merupakan spesifikasi yang dilakukan orang dalam tatanan langue oposisi antara yang “dibedakan [distingué]” dan yang “vulgar” (atau yang “langka” dan yang “komun [di mana-mana ada]”). Spesifikasi itu dilakukan secara general. Hal itu terjadi seolah prinsip hierarkisasi atas cara-cara bicara kelas hanya merupakan suatu derajat kontrol yang diperlihatkannya dan intensitas koreksi yang diwajibkannya.
Dengan demikian, maka langue legitim adalah suatu langue yang semi-artifisial. Langue itu harus didukung dengan suatu kerja permanen koreksi. Kerja koreksi itu merupakan tanggung jawab dari beberapa institusi yang memang diadakan untuk itu dan dari beberapa lokutor tunggal. Para ahli tatabahasa menetapkan dan meng-kodifikasi penggunaan legitim. Para guru mewajibkan dan menanamkan ke pikiran orang dengan cara melakukan banyak koreksi. Lewat perantaraan para ahli tatabahasa dan para guru itu, sistem sekolah berkecenderungan kebutuhan akan beberapa pelayanan dan akan produk-produknya sendiri, yaitu kerja dan instrumen-instrumen koreksi. Langue legitim mendapatkan konstansi (relatifnya) dalam waktu (sebagaimana dalam ruang) dari fakta bahwa langue itu terus dilindungi oleh suatu kerja penanaman ke dalam diri orang, untuk melawan kecenderungan penggunaan ekonomi usaha dan tekanan. Kecenderungan itu misalnya membuat orang melakukan simplifikasi analogis (orang bisa saja mengatakan vous faisez dan vous disez, dan bukannya vous faites dan vous dites). Selain itu, ekspresi yang correcte, yaitu yang sudah dikoreksi, mendapatkan sebagian besar proprietasnya dari fakta bahwa ekspresi itu tidak bisa diproduksi kecuali oleh para lokutor yang memiliki penguasaan praktik aturan-aturan savant [yang dibuat oleh para pemikir]. Aturan-aturan itu sengaja dikonstitusikan lewat kerja kodifikasi dan sengaja ditanamkan ke orang lewat suatu kerja pedagogis. Sebetulnya, paradoks tentang setiap pedagogi yang ter-institusinalisasi terdapat pada fakta bahwa pedagogi itu bertujuan untuk menginstitusikan beberapa aturan sebagai skema-skema yang difungsikan di dalam praktik. Aturan-aturan itu dihasilkan oleh para ahli tatabahasa dengan meneliti praktik linguistis yang dilakukan oleh para profesional yang pekerjaaannya memang membuat ekspresi tulis (masa lalu). Para ahli tatabahasa itu membuat aturan-aturan itu dengan cara melakukan eksplisitasi dan kodifikasi retrospektif. “Bon usage [penggunaan yang baik]” adalah produk dari suatu kompetensi. Kompetensi itu adalah suatu tatabahasa yang ter-inkorporasi-kan [berada dalam tubuh]. Kata grammaire [tatabahasa] digunakan secara sadar (dan tidak secara diam-diam seperti yang dilakukan di kalangan para linguis) dalam pengertiannya yang asli, yaitu bahwa grammaire adalah sistem yang berisi aturan-aturan savant. Aturan-aturan itu dihasilkan ex post dari diskursus yangdibuat dan diinstitusikan sebagai norma-norma yang bersifatimperatif bagi diskursus yang akan dibuat orang. Dengan demikian, maka orang tidak akan bisa menjelaskan secara komplit proprietas-proprietas dan efek-efek sosial langue legitim, jika tidak memperhitungkan bukan hanya kondisi-kondisi sosial produksi langue literer dan tatabahasanya, tetapi juga memperhitungkan kondisi-kondisi sosial imposisi dan inkulkasi [penanaman] kode savant itu sebagai prinsip produksi dan evaluasi parole [perkataan].
Dinamika lapangan linguistis
Hukum-hukum yang mengatur transmisi modal linguistis merupakan suatu kasus partikular di antara kasus-kasus hukum transmisi legitim modal kultural dari generasi ke generasi. Karena itu, maka orang bisa mengatakan bahwa kompetensi linguistis yang diukur dengan menggunakan kriteria sekolahan tergantung pada tingkat instruksi [pendidikan] yang diukur dengan menggunakan titel sekolah dan tergantung pula pada trajektori sosial. Kompetensi linguistis itu sejenis dengan dimensi-dimensi lain modal kultural. Penguasaan langue legitim bisa dilakukan lewat familiarisasi, yaitu dengan cara membuat orang bersentuhan dengan langue legitim itu secara lama, atau dilakukan juga dengan cara inkulkasi aturan-aturan eksplisit secara sengaja. Karena itu, maka kelas-kelas besar modus-modus ekspresi akan bersesuaian dengan kelas-kelas modus-modus akuisisi [pemerolehan], yaitu bersesuaian dengan beberapa bentuk kombinasi antara dua faktor utama produksi kompetensi legitim. Dua faktor itu adalah keluarga dan sistem sekolah.
Dalam pengartian itu, sebagaimana sosiologi kebudayaan [culture], maka sosiologi langage pun secara logis memang tidak bisa dipisahkan dari suatu sosiologi edukasi. Pasar linguistis secara ketat tunduk pada verdik-verdik yang diucapkan oleh para penjaga kebudayaan legitim. Karenanya, maka pasar sekolah secara ketat juga didominasi oleh produk-produk linguistis yang dihasilkan oleh kelas dominan dan cenderung mengesahkan perbedaan-perbedaan modla yang lebih dulu ada. Ada efek yang terkumpul dari suatu modal kutural yang lemah dan dari kemampuan yang lemah untuk meningkatkan modal kultural itu lewat investasi sekolah yang korelatif terhadap modal kultural itu. Efek itu membuat kelas-kelas yang paling tidak punya menjadi korban dari sanksi-sanksi [putusan-putusan] negatif yang dilakukan oleh pasar sekolah, yaitu menjadi korban eliminasi atau auto-eliminasi yang terlalu dini. Sehingga kaum papa itu hanya akan mendapatkan keberhasilan yang kecil saja. Penyimpangan-penyimpangan awal cenderung direproduksi, sebab lama inkulkasi cenderung bervariasi sesuai hasilnya. Siapapun yang tidak tunduk dan tidak menyesuaikan diri untuk menerima dan mengadopsi langage sekolah akan semakin sebentar bersentuhan dengan langage dan kontrol itu, dengan koreksi dan sanksi sekolah.
Sistem sekolah memiliki suatu autoritas. Autoritas itu harus ada agar sistem itu bisa memberlakukan secara universal suatu aksi inkulkasi yang lama dalam hal langage. Sistem itu juga cenderung menyesuaikan lama dan intensitas aksi itu dengan modal kultural yang sudah diwarisi oleh seseorang. Karena semua itu, maka mekanisme-mekanisme sosial transmisi kultural cenderung memastikan reproduksi suatu jarak struktural. Yaitu jarak antara distribusi connaissance [pengetahuan] langue legitim dan distribusi reconnaissance [pengakuan] akan langue itu. Distribusi connaissance langue legitim sangat tidak setara. Distribusi reconnaissance langue legitim itu jauh lebih seragam, dan merupakan salah satu dari beberapa faktor yang penting dari dinamika lapangan linguistis dan dari perubahan-perubahan langue. Pertarungan-pertarungan linguistis merupakan prinsip dari perubahan itu. Perubahan-perubahan itu mengharuskan adanya para lokutor yang (lebih-kurang) memiliki pengakuan yang sama atas penggunaan yang diautorisasi dan pengetahuan-pengetahuan yang tidak setara tentang penggunaan itu. demikianlah, jika strategi-strategi linguistis borjuasi-kecil dan terutama kecenderungannya untuk melakukan hiperkoreksi bisa hadir sebagai faktor utama perubahan linguistis, maka hal itu terjadi karena pergeserannya telah mencapai maksimum dalam daerah-daerah perantara yang terdapat di ruang sosial. Hiperkoreksi tersebut adalah suatu ekspresi yang biasanya terdapat pada suatu keinginan baik kultural. Keinginan baik itu diungkapkan dalam semua dimensi praktik. Sementara pergeseran di atas merupakan generator [hal yang menimbulkan] terjadinya tekanan dan pretensi, antara pengetahuan dan pengakuan itu, antara aspirasi dan sarana untuk memuaskan aspirasi itu. Pretensi itu menghadirkan suatu tekanan permanen dalam lapangan perlombaan. Pretensi itu adalah pengakuan atas distingsi. Pengakuan itu dikhianati dalam usahanya untuk menyangkal distingsi itu dengan cara menguasainya. Tekanan permanen itu hanya bisa memunculkan beberapa strategi baru distingsi di kalangan para pemegang marka-marka distingtif, yang secara sosial diakui sebagai marka-marka yang terdistingsikan. Hiperkoreksi yang dilakukan oleh borjuasi-kecil didefinisikan dalam relasi subjektif dan objektifnya dengan “vulgaritas” populer dan dengan “distingsi” borjuis. Hiperkoreksi itu mendapatkan model-model dan instrumen-instrumen koreksinya dari para wasit yang paling dikuduskan yang mengatur penggunaan legitim, yaitu para akademisi, para ahli tatabahasa, para guru dan dosen. Hiperkoreksi dilakukan supaya kontribusi yang diberikan oleh usaha asimilasi (dengan kelas-kelas borjuis) dan sekaligus oleh usaha disimilasi (dalam hubungannya dengan kelas populer) bagi perubahan linguistis menjadi lebih terlihat daripada strategi-strategi disimilasi yang dihadirkan hiperkoreksi itu di pihak para pemegang suatu kompetensi yang paling langka. Ada penghindaran yang sadar atau tidak sadar atas marka-marka yang paling terlihat tensi dan kontensi linguistis kaum borjuis-kecil (misalnya dalam bahasa perancis, ada kala passé simple yang “membuat orang menjadi guru tua”). Penghindaran itu bisa membawa kaum borjuis atau para intelektual menuju hiperkoreksi yang terkontrol. Hiperkoreksi yang terkontrol itu mengasosiasikan kelonggaran, yang telah dijamin dan ketidaktahuan yang berdaulat tentang aturan-aturan kecil-kecil itu, dengan pameran kemampuan tinggi yang santai di lapangan-lapangan yang paling berbahaya. Ada banyak strategi distingsi yang membuat orang melakukan persaingan tanpa henti untuk saling mengungguli. Strategi-strategi itu seringkali tidak disadari, dan disertai dengan banyak pembalikan antara yang pro dan yang kontra. Pembalikan itu diadakan untuk mematahkan kemauan orang yang ingin mencari proprietas non relasional yang terdapat pada gaya-gaya linguistis. Strategi-strategi itu antara lain dilakukan dengan memasukkan ketegangan ke suatu tempat yang di dalamnya segala yang umum telah menjadi longgar, dengan memasukkan usaha yang gampang di tempat yang di dalamnya orang sedang giat berusaha, dengan memasukan usaha yang santai dalam ketegangan yang merupakan seluruh perbedaan dengan bentuk-bentuk borjuasi kecil atau populer tensi dan usaha santai.
Demikianlah kita bisa menjelaskan cara bicara [parler] baru yang dimiliki oleh kaum intelektual. Cara bicara tersebut merupakan suatu cara bicara yang sedikit ragu, bahkan gagap, bersifat interogatif (“tidak?”) dan saling memotong. Cara bicara itu terbukti keberadaannya baik di Amerika Serikat maupun di Perancis. Untuk menjelaskan cara bicara itu kita harus menjelaskan juga seluruh struktur penggunaan-penggunaan yang digunakan untuk mendefinisikan cara bicara itu secara diferensial: di satu pihak ada penggunaan lama yang bersifat profesoral (dengan periode-periode gramatikal, kala imperfektum subjungtifnya, etc.) yang diasosiasikan dengan suatu image yang terdevaluasi tentang peran magistral, dan pihak lain ada penggunaan-penggunaan baru borjuis-kecil. Penggunaan-penggunaan baru borjuis-kecil merupakan produk dari suatu difusi yang diperluas dari penggunaan sekolahan. Penggunaan-penggunaan baru borjuis-kecil itu merupakan campuran dari ketegangan dan kelonggaran yang menjadi ciri dari borjuasi-kecil baru. Penggunaan-penggunaan baru borjuis-kecil itu bisa hidup dari penggunaan yang bebas hingga hiperkoreksi suatu cara bicara yang terlalu diatur. Hiperkoreksi itu langsung terdevaluasi oleh suatu ambisi yang terlalu jelas. Ambisi itu merupakan marka dari borjuasi-kecil yang baru menanjak.
Ada fakta yang menunjukkan bahwa praktik-praktik distingtif itu tidak bisa dipahami kecuali lewat referensi menuju dunia praktik-praktik yang bisa dikomposisi ulang. Fakta itu tidak mengimplikasikan bahwa orang harus mencari prinsip praktik-praktik itu dalam suatu keharusan yang disadari untuk mendistingsikan diri. Segalanya membolehkan kita mengandaikan bahwa praktik-praktik distingtif itu akarnya berada pada uatu makna praktik kelangkaan marka-marka distingtif (yang bersifat linguistis atau yang lain) dan dalam makna praktik evolusinya dalam waktu: kata-kata yang tersebar luas menjadi kehilangan kekuatan untuk mendiskriminasikan dan karenanya menjadi cenderung dianggap sebagai kata-kata yang secara intrinsek banal, komun, jadi menjadi gampang [faciles], atau menjadi usang [usés]. Ada ketidakmauan yang korelatif dengan ekposisi yang diulang-ulang. Ketidakmauan itu diasosiasikan dengan makna kelangkaan, sehingga merupakan prinsip dari peralihan-peralihan yang tidak disadari yang membuat orang menggunakan ciri-ciri stilistis yang paling “berkelas [classants]” atau menggunakan penggunaan-penggunaan yang paling langka, yang terdapat di antara ciri--ciri yang telah divulgarkan [tersebar luas].
Demikianlah perbedaan-perbedaan [écarts] distingtif merupakan prinsip dari suatu gerakan yang terus-menerus. Gerakan itu ditujukan untuk menghilangkan perbedaan-perbedaan distingtif itu, sehingga cenderung mereproduksi perbedaan-perbedaan itu (lewat suatu paradoks yang tidak akan mengherankan jika orang tahu bahwa konstansi bisa meng-suposisi-kan perubahan). Strategi-strategi asimilasi dan disimilasi merupakan prinsip dari perubahan-perubahan yang terjadi pada bermacam penggunaan langue. Strategi-strategi itu bukan hanya tidak berpengaruh pada struktur distribusi bermacam penggunaan langue itu dan pada sistem yang mencakup semua sistem perbedaan-perbedaan distingtif (gaya-gaya ekspresif). Dalam semua sistem perbedaan-perbedaan distingtif itulah strategi-strategi di atas menjadi terlihat. Tetapi strategi-strategi itu cenderung mereproduksi struktur distribusi bermacam penggunaan langue itu (dalam bentuk yang secara fenomenal berbeda). Ada fakta yang menyatakan bahwa penggerak perubahan itu adalah keseluruhan lapangan linguistis atau lebih tepatnya keseluruhan aksi-aksi dan reaksi-reaksi. Aksi-aksi dan reaksi-reaksi itu terus muncul dalam dunia relasi-relasi konkurensi. Relasi-relasi kokurensi itu bersifat konstitutif bagi keberadaan lapangan itu. Karena fakta itu, maka pusat gerakan yang abadi itu memang berada di manapun dan tidak di manapun. Ada orang-orang yang terkurung dalam suatu filsafat difusi yang didasarkan pada gambaran “noda minyak” (menurut model yang terlalu terkenal two-step flow) atau dalam filsafat “aliran sungai bercabang-cabang” (trickle-down). Mereka akan sia-sia dalam menjelaskan pusat gerakan itu, sebab mereka bersikukuh menempatkan prinsip perubahan itu pada suatu tempat tertentu di lapangan linguistis. Yang digambarkan sebagai sebagai sebuah fenomena difusi tidak lain adalah proses yang diakibatkan oleh pertarungan konkurensi. Pertarungan itu membuat setiap agen terus mengubah prorietas-proprietas substansial sambil tetap mempertahankan perbedaan yang merupakan prinsip perlombaan, di seluruh perlombaan itu sendiri. Tiap agen itu mengubah proprietas-proprietasnya itu lewat banyak strategi asimilasi dan disimilasi (dalam hubungannya dengan mereka yang berada di depan dan di belakang agen itu dalam ruang sosial dan dalam waktu). Proprietas-proprietas substansial itu anatara lain pengucapan, leksikon, dan bentuk-bentuk sintaksis tertentu, etc. Konstansi struktural harga-harga sosial penggunaan-penggunaan langue legitim itu bisa dipahami jika orang tahu bahwa strategi-strategi yangditujukan untuk memodifikasi konstansi itu memang diatur oleh struktur itu sendiri dalam hal logika dan tujuan-tujuannya, yaitu lewat posisi orang yang menjalankan strategi-strategi itu dalam struktur. Visi “interaksionis” tidak mampu melampaui persoalan aksi-aksi dan interaksi-interaksi yang diambil dalam imediatitas yang bisa langsung dilihat. Akibatnya, visi itu tidak bisa melihat bahwa strategi-strategi linguistis yang dimiliki oleh bermacam agen secara ketat tergantung pada posisi mereka dalam struktur distribusi modal linguistis. Tentang struktur distribusi itu, diketahui bahwa, lewat perantaraan struktur peluang akses ke sistem sekolahan, struktur distribusi itu bergantung pada struktur hubungan-hubungan kelas. Dengan demikian, maka struktur distribusi modal linguistis itu tidak bisa apapun kecuali mengabaikan mekanisme-mekanisme mendalam. Lewat perubahan-perubahan yang terjadi di permukaan, mekanisme-mekanisme itu cenderung memastikan reproduksi struktur perbedaan-perbedaan distingtif dan memastikan konservasi keuntungan modal yang didapatkan dari situasi yang diasosiasikan dengan kepemilikan suatu kompetensi yang langka, yaitu kompetensi yang distingtif. ****

No comments:
Post a Comment