Pengantar
Sosiologi tidak bisa lepas dari segala bentuk dominasi yang hari inipun masih dilakukan oleh linguistik dan konsep-konsepnya terhadap ilmu-ilmu sosial. Kecuali, kalau sosiologi bisa memperlihatkan operasi-operasi konstruksi objek yang mendasari linguistik dan bisa menyingkap kondisi-kondisi sosial yag menentukan produksi dan sirkulasi konsep-konsep fundamentalnya. Model linguistik sedemikian mudah dibawa ke bidang etnologi dan sosiologi. Hal itu terjadi karena kepada linguistik orang memberikan segala yang esensial, yaitu filsafat intelektualis yang membuat langage [bahasa dan penggunaannya] menjadi lebih merupakan suatu objek pemikiran dan bukannya objek dari aksi dan kekuasaan. Jika seseorang menerima model saussurian dan presuposisi-presuposisinya, maka orang itu akan memperlakukan dunia sosial sebagai suatu universum yang berisi pertukaran-pertukaran [échanges] simbolis dan akan mereduksi aksi hingga hanya menjadi tindakan komunikasi. Seperti halnya parole [penggunaan bahasa secara individual] saussurian, tindakan komunikasi itu memang hanya untuk dieja dengan menggunakan suatu ejaan atau suatu kode, yaitu dengan menggunakan langue [bahasa, misalnya bahasa indonesia] atau kebudayaan.[ Di lain kesempatan, saya pernah mencoba menganalisis ketidaksadaran epistemologis yang terdapat pada strukturalisme. Yaitu menganalisis presuposisi-presuposisi yang dengan sangat jelas digunakan Saussure dalam mengkonstruksi objek khas dari linguistik. Tetapi presuposisi-presuposisi itu telah dilupakan atau disembunyikan oleh para pengguna yang baru-baru saja menggunakan model saussurian (cf. P. Bourdieu, Le sens pratique, Paris, Éditions de Minuit, 1980, pp. 51 sq.).Orang bisa saja memperlakukan hubungan-hubungan sosial ― dan hubungan-hubungan dominasi itu sendiri ― sebagai interaksi-interaksi simbolis, yaitu sebagai hubungan-hubungan komunikasi yang mengimplikasikan pengetahuan [connaissance] dan pengakuan [reconnaissance]. Kita bisa memisahkan diri dari filsafat sosial itu. Untuk itu, maka kita harus bisa memperlihatkan bahwa, jika orang bisa saja memperlakukan hubungan-hubungan sosial itu sedemikian itu, maka kita harus waspada supaya tidak melupakan sebuah fakta penting. Fakta penting itu menunjukkan bahwa hubungan-hubungan komunikasi itu sendiri merupakan pertukaran-pertukaran linguistis, bahwa hubungan-hubungan komunikasi itu sendiri juga merupakan hubungan-hubungan kekuasaan simbolis. Dalam hubungan-hubungan kekuasaan simbolis itu, ter-aktualisasi-kanlah hubungan-hubungan kekuatan antar para pembicara atau antar kelompok-kelompok dari masing-masing pembicara itu. Pendeknya, kita harus melampaui alternatif biasa antara ekonomisme dan kulturalisme, agar bisa mengelaborasi suatu ilmu ekonomi tentang pertukaran-pertukaran simbolis.
Setiap tindakan parole dan secara lebih general segala aksi adalah suatu konjungtur, suatu pertemuan yang melibatkan beberapa rangkaian kausal yang independen. Di satu pihak, ada disposisi-disposisi habitus linguistis yang dibentuk secara sosial. Disposisi-disposisi itu mengimplikasikan suatu kecenderungan alami tertentu untuk berbicara atau untuk mengatakan hal-hal yang sudah ditentukan (kepentingan ekspresif) dan mengimplikasikan juga suatu kapasitas tertentu untuk berbicara. Kapasitas itu didefinisikan secara terpisah sebagai kapasitas linguistis yang bisa digunakan untuk secara tidak terbatas menghasilkan diskursus-diskursus yang taat tatabahasa. Kapasitas itu didefinisikan juga secara terpisah sebagai kapasitas sosial yang membuat orang bisa mempergunakan kompetensi itu dalam situasi yang sudah ditetapkan secara memadai. Di pihak lain, ada struktur-struktur pasar linguistis. Pasar linguistis itu diberlakukan sebagai suatu sistem yang berisi persetujuan-persetujuan dan sensor-sensor yang bersifat spesifik.
Produksi dan sirkulasi itu adalah sebagai relasi yang melibatkan habitus-habitus linguistis dan pasar-pasar. Dalam pasar-pasar itu, habitus-habitus tersebut menawarkan produk-produknya. Model sederhana produksi dan sirkulasi itu tidak ditujukan untuk menolak pentingnya atau menggantikan analisis yang betul-betul linguistik tentang kode-nya. Tetapi, model itu membuat orang bisa memahami kesalahan-kesalahan dan kegagalan-kegagalan yang dialami linguistik. Yaitu kesalahan dan kegagalan yang terjadi ketika, dengan memperhitungkan hanya satu dari beberapa faktor yang menentukan yaitu kompetensi yang khas linguistis, linguistik mencoba menjelaskan diskursus dalam singularitas konjungturalnya. Kompetensi linguistis itu didefinisikan secara abstrak di luar segala pengaruh yang diterimanya dari kondisi-kondisi sosial produksi kompetensi itu sendiri. Para linguis sudah sedemikian lama tidak mengetahui limit yang konstitutif bagi ilmu mereka. Karena itulah, maka mereka tidak punya pilihan lain kecuali mencari dengan tanpa harapan segala yang terdapat dalam relasi-relasi sosial di dalam langue. Padahal dalam relasi-relasi sosial itulah, langue berfungsi. Atau juga para linguis itu tidak punya pilihan kecuali membuat sosiologi tanpa mengetahuinya, yaitu dengan ancaman bahaya menemukan segala yang diimpor secara sadar oleh sosiologi spontan buatan linguis itu dalam tatabahasa itu sendiri.
Tatabahasa tidak mendefinisikan makna, kecuali dengan cara yang sangat parsial. Dan dalam relasi dengan suatu pasarlah maka determinasi lengkap signifikasi diskursus bisa dilakukan. Ada satu bagian yang bukan terkecil dari determinasi-determinasi itu. Determinasi-determinasi itulah yang menghadirkan definisi praktik atas makna. Bagian tersebut hadir kepada diskursus secara automatis dan dari luar. Ada makna objektif yang muncul dalam sirkulasi linguistis. Pada prinsip makna objektif itu, pertama-tama ada suatu nilai distingtif. Nilai distingtif itu berasal dari penghadiran relasi yang dikerjakan oleh para lokutor [pihak-pihak yang berbicara], secara sadar atau tidak sadar. Relasi itu adalah relasi antara produk linguistis yang diadakan oleh seorang lokutor yang dikarakterisasikan secara sosial dan produk-produk yang dihadirkan bersama-sama dalam suatu ruang sosial yang sudah ditentukan. Ada juga fakta yang menunjukkan bahwa produk linguistis tidak dapat direalisasikan secara lengkap sebagai message kecuali kalau produk itu diperlakukan sebagaimana adanya, yaitu dieja-diartikan, dan ada fakta bahwa skema-skema interpretasi yang digunakan reseptor ketika melakukan apropriasi kretif atas produk yang ditawarkan kepadanya bisa saja lebih-kurang menyimpang dari skema-skema yang mengorientasikan produksinya. Efek-efek itu tidak bisa dihindari. Lewat-efek-efek itu maka pasar tersebut ikut berjasa dalam menghasilkan bukan hanya nilai simbolis tetapi juga dalam menghasilkan makna diskursus.
Dengan perspektif di atas, orang bisa saja menangani pertanyaan tentang gaya [style]: “perbedaan individual yang dimiliki orang jika dibandingkan dengan norma linguistis”, yaitu elaborasi partikular yang menghadirkan kekhasan tertentu dalam diskursus adalah suatu makhluk-yang-diketahui [un être-perçu]. Makhluk-yang-diketahui itu tidak akan ada kecuali dalam relasinya dengan subjek-subjek yang mengetahuinya. Yaitu subjek-subjek yang telah dibekali dengan disposisi-disposisi diakritis yang membuat mereka bisa melakukan pembedaan-pembedaan [distinctions] atas bermacam-macam cara untuk mengatakan sesuatu, yaitu bisa membeda-bedakan bermacam seni bicara yang distingtif. Persoalan gaya misalnya adalah persoalan poesia yang dibandingkan dengan prosa, atau persoalan diksi suatu kelas (kelas sosial, seksual atau generasional) yang dibandingkan dengan suatu kelas lain. Selanjutnya harus dikatakan bahwa gaya tersebut tidak akan ada kecuali dalam relasinya dengan agen-agen yang sudah memiliki beberapa skema yang mengatur persepsi dan apresiasi. Skema-skema itu membuat mereka bisa meng-konstitusi gaya itu sebagai sekumpulan perbedaan-perbedaan sistematis, yang dikumpulkan secara sinkretis. Yang disirkulasikan dalam pasar linguistis bukanlah “langue”, melainkan diskursus-diskursus yang secara stilistis dikarakterisasi. Karakterisasi itu bisa dilakukan di sisi produksinya, yaitu ketika setiap lokutor memiliki suatu idiolek ketika dihadapkan dengan langue bersama. Dan karakterisasi itu dilakukan juga di sisi resepsi, yaitu ketika setiap reseptor ikut berperan dalam memproduksi message yang dipersepsi dan diapresiasinya, yaitu dengan cara mengimpor segala yang merupakan pengalaman singular dan kolektifnya ke dalam dirinya. Segala yang bisa dikatakan tentang diskursus poetis bisa diterapkan pada segala diskursus, sebab diskursus poetis itu membawa efeknya hingga intensitas maksimum. Efek itu bekerja dengan membangkitkan pengalaman-pengalaman yang berbeda-beda tergantung individunya. Denotasi merepresentasikan “bagian yang stabil dan sama bagi semua lokutor”[ Cf. G. Mounin, La communication poétique, précédé de Avez-vous lu Char?, Paris, Gallimard, 1969, pp. 21-26. ], sedangkan konotasi mengacu kepada singularitas pengalaman-pengalaman individual. Hal itu terjadi demikian sebab konotasi dihadirkan dalam suatu relasi yang dikarakterisasi secara sosial. Dalam relasi itu para reseptor mempergunakan diversitas instrumen-instrumen apropriasi simbolis mereka. Paradoks yang terdapat pada komunikasi adalah bahwa komunikasi memang mengharuskan adanya suatu medium yang sama, tetapi yang tidak akan berhasil, kecuali dengan cara melahirkan dan melahirkan ulang pengalaman-pengalaman singular, yaitu pengalaman-pengalaman yang sudah dimarkai secara sosial. Paradoks itu bisa dilihat jelas dalam kasus-kasus limit, ketika persoalannya adalah tentang bagaimana men-transmisi-kan emosi-emosi, seperti yang dilakukan orang dengan menggunakan puisi. Kata adalah produk netralisasi hubungan-hubungan sosial. Padahal kata berfungsi dalam relasi-relasi sosial itu. Akibatnya kata yang ada di segala macam kamus sebetulnya tidak memiliki eksistensi sosial. Dalam praktiknya, kata itu tidak akan ada kecuali jika sudah ditenggelamkan dalam situasi-situasi, yaitu dalam situasi ketika inti makna bisa hadir tanpa diketahui. Padahal inti makna itu bertahan dan relatif terus tidak berubah meskipun hadir di bermacam pasar. Seperti yang dikatakan Vendryès, jika kata-kata selalu menerima makna-makna yang dimilikinya sekaligus dalam satu waktu, maka diskursus akan menjadi suatu permainan kata yang tidak pernah selesai. Tetapi jika seperti dalam kasus louer [menyewa] ― locare ― dan louer [memuji] ― laudare ―, semua makna yang dimilikinya memang sama sekali tidak bergantung satu sama lain, maka semua permainan kata (terutama permainan-permainan yang bersifat ideologis) akan menjadi imposibel.[ J. Vendryès, Le langage. Introduction linguistique à l’histoire. Paris, Albin Michel, 1950, p. 208. ] Bermacam makna yang dimiliki sebuah kata didefinisikan dalam relasi antara inti-nya yang invarian dan logika spesifik yang terdapat di bermacam pasar. Pasar-pasar itu secara objektif ter-situasi-kan dalam hubungannya dengan pasar yang di dalamnya makna yang paling komun didefinisikan. Makna-makna yang bermacam-macam yang dimiliki sebuah kata tidak akan ada kecuali bagi kesadaran savant [dari pemikir, bisa ilmuwan atau filosof]. Kesadaran savant itu menghadirkan bermacam makna kata itu dengan cara menghancurkan solidaritas organik antara kompetensi dan pasar.
Agama dan politik mendapatkan kemampuannya menghasilkan efek-efek ideologisnya dari posibilitas-posibilitas yang terkandung dalam polisemi yang inheren pada ubikuitas [ke-“ada-di-mana-mana”-an] yang bersifat sosial, yaitu ubikuitas yang terdapat pada langue legitim. Ada suatu masyarakat yang telah terdiferensiasi. Ada kata-kata benda yang dikatakan komun, misalnya kerja, keluarga, ibu, cinta. Dalam masyarakat tersebut, sebetulnya kata-kata benda itu menerima signifikasi-signifikasi yang sangat bermacam-macam. Bahkan signifikasi-signifikasi itu bisa antagonis satu sama lain. Hal itu terjadi sebab para anggota “komunitas linguistis” yang sama itu, entah baik entah buruk, memang menggunakan langue yang sama dan bukannya menggunakan beberapa langue yang berbeda. Sebab unifikasi pasar linguistis membuat semakin banyak signifikasi bagi signe-signe [tanda-tanda] yang sama.[ Imperatif-imperatif produksi dan juga imperatif-imperatif dominasi memberlakukan suatu minimum komunikasi antar kelas. Sehingga imperatif-imperatif itu meminimumkan akses bagi kaum yang paling tidak punya apa-apa (misalnya para imigran), yaitu dengan memberikan kepada mereka sejenis minimum vital linguistis, yaitu bahwa mereka hanya bisa menguasai bahasa kaum dominan secara minimum, agar mereka bisa tetap hidup, dan tidak pernah menjadi dominan.] Bakhtin mengingatkan bahwa dalam situasi-situasi revolusioner, kata-kata komun itu digunakan dengan makna-makna kebalikannya. Faktanya, kata-kata yang netral itu tidak ada. Penelitian menunjukkan misalnya bahwa adjektif-adjektif yang paling biasa digunakan untuk mengungkapkan selera seringkali mendapatkan makna-makna yang bermacam-macam, yang kadang berlawanan, berdasarkan kelas yang menggunakannya. Kata “soigné [diperlakukan dengan penuh perhatian]” disukai oleh borjuasi kecil. Kata itu ditolak oleh kaum intelektual, sebab kata itu membuat orang dan segala sesuatu menjadi bersifat borjuis kecil, yaitu bersifat sempit, miskin. Orang bisa menemukan polisemi yang ada pada langage religius dan efek ideologis unifikasi atas semua orang yang saling berlawanan atau efek ideologis denegasi divisi-divisi yang dihasilkannya. Polisemi dan efek ideologis tersebut itu berkaitan dengan fakta bahwa langage religius itu berhasil berbicara kepada semua kelompok dan bahwa semua kelompok bisa menggunakan langage itu untuk berbicara. Fakta itu terjadi sebab ada interpretasi-interpretasi yang terimplikasi dalam produksi dan resepsi langage komun. Produksi dan resepsi itu dilakukan oleh para lokutor yang menduduki bermacam-macam posisi dalam ruang sosial, sehingga para lokutor itu memang dibekali dengan bermacam intensi dan kepentingan. Langage komun itu tidak seperti langage matematika, sebab langage matematika itu hanya bisa memastikan univokitas [ke-satu-makna-an] kata yang dimiliki kelompok jika bisa meng-kontrol secara ketat homogeneitas kelompok yang anggotanya adalah para ahli matematika. Agama-agama, yang dikatakan orang bersifat universal, menjadi bersifat universal bukan dalam pengertian dan pada kondisi yang sama yang membuat ilmu menjadi bersifat universal.
Penggunaan langage yang dinetralkan diberlakukan setiap kali orang berusaha membangun suatu konsensus praktik di antara para agen atau di antara kelompok-kelompok agen yang memiliki kepentingan-kepentingan yang secara sebagian atau secara total berbeda-beda. Yaitu pertama-tama penggunaan langage itu dilakukan dalam lapangan pertarungan politik legitim, tetapi juga dilakukan dalam transaksi dan interaksi kehidupan sehari-hari. komunikasi antar kelas (atau antar etnik, di dalam masyarakat kolonial atau semi-kolonial) selalu menyajikan suatu situasi kritis bagi langue yang digunakan, entah bahasa manapun itu. Komunikasi itu sebetulnya cenderung memprovokasi kembalinya orang kepada makna yang secara paling terbuka dibebani dengan konotasi-konotasi sosial: “Ketika kita mengucapkan kata paysan [petani, orang desa] di depan seseorang yang baru saja datang dari desa, kita tidak tahu bagaimana orang itu akan menerima kata itu”. Jadi tidak ada lagi kata-kata yang tanpa dosa. Efek objektif penyingkapan selubung itu menghancurkan kesatuan yang biasanya terlihat di langage ordiner. Setiap kata, setiap lokusi, mengancam akan menghadirkan dua makna antagonis berdasakan cara yang digunakan pengirim dan penerima untuk memahaminya. Ada logika yangh mengatur automisme-automisme verbal yang tanpa disadari membawa orang kepada penggunaan biasa, dengan segala nilai dan prasangka yang memang selalu ada pada penggunaan itu. Logika itu mengandung bahaya permanen “gaffe [galah pengait]”. Galah pengait itu bisa digunakan untuk dalam sekejap menguapkan sebuah konsensus yang dihadirkan secara ahli untuk membuat strategi-strategi peringatan resiprok.
Tetapi orang tidak akan bisa memahami secara lengkap efikasitas [kemampuan untuk berhasil] simbolis langage-langage politik atau religius, jika orang tidak mereduksi efikasitas itu menjadi efek kesalahphaman-kesalahpahaman [méconnaissances]. Kesalahphaman-kesalahpahaman itu membuat para individu yang saling berlawanan bisa dikenali dalam message yang sama. Diskursus-diskursus savant memiliki kekuatannya dari korespondensi tersembunyi antara struktur-struktur ruang sosial dan struktur lapangan kelas-kelas sosial. Dalam ruang sosial itu, diskursus-diskursus savant diproduksi, yaitu lapangan politik, lapangan religius, lapangan artistik atau lapangan filosofis. Sementara, dalam struktur lapangan kelas-kelas sosial itu para reseptor disituasikan. Dalam hubungannya dengan struktur lapangan kelas-kelas sosial itulah para reseptor menginterpretasi message-nya. Homologi yang bisa ditemukan di antara oposisi-oposisi yang konstitutif bagi lapangan-lapangan yang terspesialisasi dan lapangan kelas-kelas sosial itu adalah prinsip dari suatu amfibologi esensial. Amfibologi itu terlihat khususnya ketika diskursus-diskursus esoteris mengalami sejenis universalisasi automatis, dengan cara menyebar keluar dari lapangan yang terbatas, sebab amfibologi itu sudah bukan hanya merupakan keputusan kaum dominan atau keputusan kaum terdominasi, yaitu keputusan yang ada di tengah lapangan spesifik agar bisa menjadi keputusan-keputusan yang berlaku baik bagi kaum dominan ataupun bagi kaum yang terdominasi.
Terakhir, harus dikatakan bahwa ilmu sosial harus melakukan tindakan autonomi agar bisa memiliki langue-nya sendiri, agar memiliki logikanya yang spesifik, agar mempunyai aturan-aturan berfungsinya yang khas. Khususnya orang tidak akan bisa memahami efek-efek simbolis yang ditimbulkan oleh langage jika tidak memperhitungkan fakta, yang ribuan kali dibuktikan, bahwa langage adalah mekanisme formal pertama yang kapasitas-kapasitas generatifnya memang tidak terbatas. Tidak ada sesuatupun yang tidak bisa dikatakan, dan orang bisa mengatakan hal yang tidak ada. Orang bisa mengatakan apapun jika dia ada di dalam langue, yaitu di dalam batas-batas gramatikalitas. Telah diketahui bahwa menurut Frege kata-kata bisa memiliki suatu makna meski tidak mengacu kepada sesuatupun. Itu sama dengan mengatakan bahwa kekakuan formal bisa menyembunyikan pelepasan semantis [décollage sématique]. Semua teologi religius dan semua teodikea [théodicée, perkataan yang berkaitan dengan Tuhan] politik telah ikut membuat terjadinya fakta bahwa kapasitas-kapasitas generatif yang dimiliki langue memang bisa melampaui batas-batas intuisi atau batas-batas verifikasi empirik supaya bisa memproduksi diskursus-diskursus yang secara formal memang benar, tetapi yang secara semantis memang kosong. Ritual-ritual religius menyajikan batas semua situasi imposisi-nya. Dalam situasi-situsi imposisi itu digunakanlah suatu kompetensi sosial, yaitu kompetensi yang dimiliki oleh lokutor legitim yang diautorisasi untuk berbicara dan untuk berbicara dengan autoritas. Penggunaan kompetensi itu dilakukan lewat digunakannya suatu kompetensi teknis yang bisa saja sangat tidak sempurna. Benveniste mencatat bahwa kata-kata yang dalam bahasa-bahasa indo-europa digunakan untuk mengatakan hukum [dire le droit] memang sangat dekat dengan akar kata mengatakan [dire]. Mengatakan dengan lurus, secara formal memang sesuai aturan, dengan demikian memang berpretensi untuk mengatakan hukum, yaitu mengatakan keharus-menjadian [le devoir-être], dengan peluang keberhasilan yang sangat besar. Seperti Max Weber, banyak orang telah melawan hukum magis atau hukum karismatis yang ada pada janji kolektif atau ordalia. Hukum tersebut adalah suatu hukum rasional yang didasarkan pada kalkulabilitas dan previsibilitas. Orang-orang yang telah melawan hukum itu lupa bahwa hukum yang dirasionalisasi dengan cara yang paling kaku adalah bukan apapun kecuali suatu tindakan magi sosial yang memang berhasil.
Diskursus juridis adalah suatu perkataan kreator, yaitu perkataan yang membuat apapun yang disebutkannya menjadi ada. Perkataan kreator itu sejenis dengan semua perkataan performatif, antara lain berkat, kutukan, perintah, harapan atau umpatan. Yaitu perkataan ilahi, yang berasal dari hukum ilahi. Perkataan ilahi itu membuat segala yang disebutkannya menjadi ada, seperti halnya intuitus originarius yang oleh Kant dianggap sebagai hak Tuhan. Perkataan itu tidak sama dengan semua perkataan turunan, yang konstatif, yang hanya merupakan catatan sederhana tentang suatu hal yang sudah ada sebelumnya. Orang tidak pernah boleh lupa bahwa langue adalah suport istimewa bagi impian tentang kekuasaan absolut. Sebab langue memiliki kapasitas generatif yang tidak terbatas, yang juga bersifat originer, dalam pengertian yang dimaksud Kant. Kapasitas itu diberikan kepada langue oleh kekuatannya untuk memproduksi, dengan cara memproduksi representasi yang diakui dan yang direalisasikan secara kolektif tentang eksistensi.(***)
<< Sebelumnya || Selanjutnya >>

No comments:
Post a Comment