Latest News

Pierre Bourdieu: Apa Artinya Berbicara

Ilmu Ekonomi tentang Pertukaran Linguistis

Pengantar 1





Terjemahan: Stephanus Aswar 


Kant menulis sebuah esai yang berjudul Essai pour introduire en philosophie le concept de grandeur négative [Essai untuk mengantar ke dalam filsafat yang berbicara tentang konsep ukuran negatif]. Dalam esai itu, dia membayangkan ada seorang laki-laki yang rakusnya sepuluh derajat. Tetapi laki-laki itu berusaha keras memberikan cinta kepada orang lain sebanyak dua belas derajat. Sementara ada laki-laki lain yang serakah tiga derajat. Dia memiliki maksud mencintai orang lain sebesar tujuh derajat, dan dia melakukan suatu tindakan kemurahan hati sebesar empat derajat. Kant membuat perumpamaan itu untuk menyimpulkan bahwa laki-laki pertama lebih tinggi secara moral daripada laki-laki kedua, meskipun jika diukur tindakannya ― dua derajat melawan empat derajat ― laki-laki pertama itu secara moral jelas lebih rendah daripada laki-laki kedua. Bisa saja orang mau tunduk pada aritmetika hitung-hitungan jasa baik semacam itu untuk menilai baik-buruknya kerja ilmiah... Sangat jelas bahwa ilmu-ilmu sosial berada di golongan laki-laki yang rakusnya sepuluh derajat itu. Dan tentu orang akan bisa memiliki penilaian yang lebih tepat tentang jasa-jasa ilmu-ilmu sosial, jika tahu bagaimana menghitung kekuatan-kekuatan sosial yang membuat ilmu-ilmu sosial itu berjaya. Yaitu menghitung dengan cara yang digunakan Kant di atas. Hal itu tidak pernah sedemikian benar kecuali ketika dalam hal ini kita berbicara tentang objek khas linguistik, yaitu langue [bahasa] yang satu dan tidak bisa dipecah-pecah. Pengaruh kuat linguistik menguasai keseluruhan ilmu-ilmu sosial. Dalam pemikiran Saussure, langue hadir atas dasar disingkirkannya segala variasi sosial yang inheren. Atau di pemikiran Chomsky, langue dihadirkan dengan dasar keistimewaan yang diberikan kepada proprietas-proprietas formal yan dimiliki tatabahasa, dengan mengorbankan aturan-aturan fungsional.
   
   
Saya telah menyelesaikan suatu kerja keilmuan. Kerja itu untungnya belum di pernah dipublikasikan. Dalam kerja itu saya bertumpu pada suatu “pembacaan” metodis atas buku Cours de linguistique générale untuk berusaha mendirikan suatu “teori general tentang kebudayaan”. Karena itulah maka saya mungkin menjadi lebih peka daripada orang lain tentang efek-efek yang paling kelihatan dari dominasi yang dilakukan oleh disiplin yang paling berkuasa. Saya lebih peka terhadap transkripsi-transkripsi harafiah yang dilakukan orang terhadap tulisan-tulisan teori, atau saya lebih peka terhadap transfer-transfer mekanis yang dilakukan orang atas konsep-konsep yang diambil hanya dengan nilai permukaannya. Juga saya menjadi lebih peka tentang semua pinjaman-pinjaman liar yang membuat orang melakukan interpretasi-interpretasi yang tidak terduga atau yang menyimpang, dengan cara memisahkan opusi operatum [karya yang dibuat] dari modus operandi [cara membuat]. Dan resistensi terhadap kekaguman-kekaguman yang tiada berarti itu tidak ada hubungannya dengan suatu penolakan yang ditujukan untuk membolehkan orang untuk tidak mengetahuinya. Ada karya yang dibuat Saussure. Dan kemudian, ada karya Chomsky, yang dibicarakan pada waktu model parole (dan model praktik) menjadi tidak mencukupi. Karya Chomsky itu mengakui tempat bagi disposisi-disposisi generator. Bagi saya, kedua karya itu telah menghadirkan beberapa pertanyaan fundamental bagi sosiologi.

Sekarang tinggal dikatakan bahwa orang tidak bisa berusaha mati-matian memecahkan persoalan itu kecuali kalau sudah keluar dari batas-batas yang terdapat dalam maksud sesungguhnya dari linguistik struktural sebagai teori murni. Seluruh takdir linguistik modern diputuskan dalam ketukan palu hakim kekuatan inaugural. Dalam ketukan itu, Saussure memisahkan “linguistik ekstern” dari “linguistik intern”. Dan dengan memberikan nama resmi linguistik kepada lingustik intern, maka Saussure menyingkirkan semua riset yang menempatkan langue dalam hubungannya dengan  etnologi, dengan sejarah politik orang-orang yang menggunakannya, atau juga Saussure menyingkirkan semua riset yang menghubungkan linguistik dengan geografi yang berbicara tentang domain yang di dalamnya langue digunakan orang. Hal itu dilakukan Saussure sebab riset-riset itu tidak berguna dalam membuat pengetahuan yang berbicara tentang langue yang diamati pada dirinya sendiri. Linguistik struktural lahir dari suatu autonomisasi langue terhadap kondisi-kondisi sosial produksi, reproduksi dan penggunaannya. Karena itulah, maka linguistik struktural tidak akan sanggup menjadi suatu ilmu yang dominan di antara ilmu-ilmu sosial kalau tidak memberlakukan suatu efek ideologis, yaitu dengan cara memberikan segala yang di luar skientifikitas kepada naturalisasi produk-produk sejarah yang adalah hal-hal simbolis. Transfer model fonologis ke luar lapangan linguistik memberikan efek meng-general-kan keseluruhan produk-produk simbolis, taksinomi kekerabatan, sistem-sistem mitos atau karya-karya seni. Generalisasi itu adalah operasi inaugural yang membuat linguistik menjadi ilmu yang paling natural di antara semua ilmu sosial, dengan cara memisahkan instrumen linguistik dari kondisi-kondisi sosial produksi dan penggunaannya.

Jelas, bermacam ilmu yang lain ter-predisposisi untuk menerima kuda Troya ini dengan derajat yang berbeda-beda. Etnolog disatukan kepada objeknya lewat suatu relasi khusus, yaitu netralitas “penonton yang tidak memihak” yang memberinya status sebagai pengamat asing. Relasi semacam itu membuat etnologi menjadi korban pilihan bagi linguistik. Korban pilihan lainnya adalah tradisi sejarah seni atau sejarah sastra. Ada suatu metode analisis yang mengharuskan dilakukannya netralisasi. Dalam tradisi sejarah seni atau sejarah sastra itu, dipergunakannya suatu metode analisis semacam itu hanya akan membuat orang menguduskan modus aprehensi karya seni yang dituntut dari seorang connaisseur kapanpun. Modus aprehensi itu adalah disposisi “murni”dan yang secara murni bersifat “intern”, yang bebas dari segala referensi yang “reduktif” kepada “segala yang ekstern”. Begitulah, seperti suatu penggilingan doa di suatu domain lain, semiologi sastra telah membawa pemujaan karya seni pada suatu derajat rasionalitas yang lebih tinggi tanpa memodifikasi fungsi-fungsinya. Dengan hadirnya linguistik struktural, orang menyingkirkan segala yang bersifat sosial atau segala objek simbolis lainnya. Padahal segala yang sosial itu membuat orang bisa berbicara tentang langue, dan objek-objek simbolis itu bisa hadir sebagai finalitas tanpa akhir. Disingkirkannya hal-hal tersebut memberikan andil yang tidak sedikit bagi sukses linguistik strukturalis, yaitu dengan cara menebarkan sihir tentang suatu permainan tanpa konsekuensi ke atas kerja-kerja “murni” yang dilakukan untuk membuat suatu analisis yang secara murni bersifat intern dan formal.

Ada fakta bahwa “natura sosial langue adalah salah satu dari beberapa karakter intern-nya” seperti yang dikatakan buku Cours de linguistique générale dan bahwa heterogeneitas sosial memang inheren pada langue. Fakta itu disembunyikan sedemikian mati-matian oleh para linguis dan para penirunya. Jadi sekarang kita harus memperlihatkan semua konsekuensi dari fakta itu. Konsekuensi itu dipeerlihatkan dengan mengetahui risiko-risiko yang dihadapi upaya ini, dan bahwa risiko yang paling kecil bukannya kenampakan kasar yang terdapat pada hal-hal yang paling halus dan pada hal-hal yang paling ketat yang ada pada analisis-analisis yang sanggup ― dan berdosa ― untuk mengusahakan munculnya kembali segala yang disembunyikan itu. Pendeknya, kita harus memutuskan untuk membayar kebenaran dengan harga yang lebih tinggi untuk mendapatkan suatu keuntungan distingsi yang lebih kecil.  

______________________
* Bagian kedua dari buku ini menyajikan kembali bermacam teks yang pernah diterbitkan, dengan suatu bentuk yang lebih-kurang dimodifikasi: untuk bab 1, teks berjudul “Le langage autorisé. Notes sur les conditions sociales de l’efficacité du discours rituel”, Actes de la recherche en sciences sociales, 5-6, november 1975, pp. 183-190; untuk bab 2, teks berjudul “Les rites d’institution”, Actes de la recherche en sciences sociales, 43, juni 1982, pp. 58-63 (transkripsi tentang suatu komunikasi yang disajikan di kolokuium tentang “Les rites de passage aujourd’hui”, di Neuchâtel oktober 1981); untuk bab 4, teks berjudul “Décrire et préscrire”,  Actes de la recherche en sciences sociales, 38, mei 1981, pp. 69-74.
    Bagian ketiga menampilkan ulang: untuk bab 2, teks berjudul « La lecture de Marx: “quelques remarques critiques à propos de Lire le Capital” », Actes de la recherche en sciences sociales, 5-6, november 1975, pp. 65-79; untuk bab 3, teks berjudul “Le Nord et le Midi. Contribution à une analyse de l’effet Montesquieu”, Actes de la recherche en sciences sociales, 35, november 1980, pp. 21-25.


No comments:

Post a Comment

Slilit.com || Meng-ada untuk Bermakna
|| Tata Letak: Rennes Syndicate ||..

Theme images by Bim. Powered by Blogger.