Post Terbaru
Iklan
Islam Dan Orientalisme
Ada sebagian orang yang jika mendengar kata orientalisme atau mendengar salah satu tokohnya akan langsung menutup kupingnya supaya dia tidak mendengarnya lebih jauh, mereka menganggap bahwa para orientalisme sangat berbahaya karena akan menghancurkan sendi-sendi kehidupan Islam, tapi apakah benar demikian, mari kita pelajari lebih lanjut siapa sebenarnya para orientalis itu.
Orientalisme berasal dari kata orient, bahasa perancis, yang secara harfiah bermakna timur dan secara geografis bermakna dunia belahan timur, dan secara etimologis bermakna bangsa-bangsa di timur. Kata “orient” telah memasuki berbagai bahasa eropa, termasuk bahasa inggris. Oriental adalah sebuah kata sifat yang bermakna hal-hal yang bersifat timur, yang teramat luas ruang lingkupnya. Orientalis adalah kata nama pelaku yang menunjukkan seseorang yang ahli tentang hal-hal yang berkaitan dengan “timur” itu; biasanya disingkat dengan sebutan ahli ketimuran.
Ada beberapa definisi mengenai pengertian orientalisme diantaranya menurut Dr. Muh. Natsir Mahmud, M.A., ia mendefinisikan orientalisme sebagai sarjana Barat yang berusaha mempelajari masalah-masalah ketimuran, menyangkut agama, adat istiadat, bahasa, sastra dan masalah lain yang menarik perhatian mereka tentang soal ketimuran. Sedangkan menurut Ismail Yakub, bahwa orientalisme adalah : “Ahli tentang soal-soal Timur, yakni segala sesuatu megenai negeri-negeri Timur, terutama, negeri Arab-Islam, yaitu kebudayaanya, keagamaanya, peradabannya, kehidupannya dan lain-lain dari bangsanya dan negeri Timur’’.
Maxime Rodinson sebagaimana dikutip oleh Muh. Natsir menerangkan bahwa orientalisme mula-mula mempelajari Islam, “mempelajari” bukan sekedar mengenal tetapi mempelajari secara sistematis, profesional, dan terorganisir. Adapun orientalisme, dengan menambahkan “isme” dibelakang kata “orientalis”berarti ajaran atau paham tentang dunia Timur yang dibentuk oleh opini Barat.
Ada beberapa factor yang mendorong sarjana barat melakukan kajian ke dunia timur (1) Akibat dari Perang Salib yang terjadi hampir dua abad lamanya, besar sekali pengaruhnya terhadap dunia Barat dalam bidang budaya dan intelektual. Sebelumnya, sejak abad ke-7 masehi, pihak Islam yang memasuki wilayah-wilayah Kristen sejak dari asia kecil sampai ke semenanjung Italia dan semenanjung Iberia (Spanyol, Portugal) dan wilayah-wilayah Eropa yang mengunjungi wilayah-wilayah kekuasaan Islam, maka hal itu hanya bersifat perorangan belaka. Tetapi selama Perang Salib yang terjadi hampir dua abad lamanya mereka datang dalam jumlah yang besar, sampai ratusan ribu setiap angkatan dari lapisan rakyat umum sampai kaum bangsawan. Di wilayah-wilayah Islam itulah mereka menyaksikan kaste-kastel bekas kediaman amir-amir Islam maupun para sultan di wilayah suriah maupun tanah suci bekas imperium Roma itu, berhiaskan dekorasi yang membangkitkan rasa estetik. Tetapi sejak Perang Salib, terjadilah perubahan besar. Mereka mulai memesan benda-benda yang terpandang mewah ketika itu, sehingga berkembanglah perdagangan Venezia dan Genoa, yang menyambut barang-barang kebutuhan tingkat tinggi dari saudagar-saudagar muslim di Bandar-bandar dagang sekitar laut tengah.
Selain menyaksikan perkembangan kebudayaan dunia Islam, mereka juga menyaksikan betapa tinggi perkembangan ilmiah dan filsafat sehingga menggelorakan selera kaum cendekiawan yang ikut dalam setiap angkatan Perang Salib. Semua itu semakin membangkitkan minat dan perhatian untuk menggali dan mempelajari situasi dan kondisi di benua Timur.
(2) Sentuhan Barat Dengan Perguruan Tinggi Pihak Islam
Salah satu faktor yang mendorong pertumbuhan orientalisme adalah persentuhan tokoh-tokoh dari Barat dengan perguruan tinggi Islam. Sejarah mencatat adanya empat perguruan tinggi tertua di lingkungan dunia Islam. Perguruan tinggi tertua dunia Islam di belahan timur berkedudukan di Baghdad (Irak) dan Kairo (Mesir); yang kurang mengundang perhatian tokoh-tokoh dari Barat pada masa itu dan masa-masa berikutnya. Sebaliknya dua perguruan tinggi tertua dunia Islam di belahan barat yang berkedudukan di Cordova (Andalusia) dan Fez (Maroko), justru tarikannya begitu kuat mengundang tokoh-tokoh dunia Barat untuk belajar dan meneliti. Keempat perguruan tinggi tertua di dunia Islam itu adalah: Nidzamiah, Al-Azhar, Cordova, Kairwan.
(3) Penyalinan Naskah-Naskah Arab Ke Dalam Bahasa Latin Mengenai Bidang Ilmiah Dan Filsafat
Faktor lain yang menumbuhkan kajian orientalisme adalah keinginan menyelami hal-hal yang berkaitan maupun yang datang dari Timur, hal itu terjadi dikarenakan terdapat penyalinan manuskrip-manuskrip kedalam bahasa Latin sejak abad ke-13 masehi hingga bangkitnya zaman kebangkitan (renaissance) di eropa pada abad ke-14. Kegiatan penyalinan manuskrip-manuskrip itu pertama kali mendapat restu King Frederick II dari Sicily (1198-1212) yang kemudian menjabat kaisar Holy Roman Empire (1215-1250).
Selain itu, pengaruh lawatan marco polo (1254-1324) ke tiongkok yang mewariskan karya berjudul description of the world (uraian tentang dunia) yang belakangan lebih dikenal dengan judul the travels of marco polo (perlawatan marco polo) dianggap memberikan pengaruh besar terhadap Barat untuk mengkaji Timur lebih lanjut.
kaum muslim sendiri ada dua pendapat dalam menyikapi orientalisme, Sebagian mereka ada yang menganggap seluruh orientalis sebagai musuh Islam. Mereka bersikap ekstrim dan menolak seluruh karya orientalis. Bahkan di antara mereka ada yang secara emosional menyatakan bahwa orang Islam yang mempelajari tulisan karya orientalis termasuk antek zionis.
Mereka mempunyai argumen bahwa orientalisme bersumber pada ide-ide Kristenisasi yang menurut Islam sangat merusak dan bertujuan menyerang benteng pertahanan Islam dari dalam. Karena pada faktanya tidak sedikit karya-karya orientalis yang bertolak belakang dengan Islam. H.A.R. Gibb, misalnya, dalam karyanya Mohammedanism berpendapat bahwa al-Quran hanyalah karangan Nabi Muhammad; Gibb mencoba menurunkan derajat kesucian agama wahyu ini, padahal ia tahu persis tak ada seorang manusia Muslim pun berpendapat bahwa Islam adalah ciptaan Muhammad SAW.
Pandangan yang sepenuhnya negatif dikemukakan oleh Ahmad Abdul Hamid Ghurab mengenai karakter Orientalisme yaitu: pertama, orientalisme adalah suatu kajian yang mempunyai ikatan yang sangat erat dengan kolonialisme Barat; kedua, orientalisme merupakan gerakan yang mempunyai ikatan yang sangat kuat dengan Kristenisasi; ketiga, orientalisme merupakan kajian gabungan yang kuat antara kolonialisme dengan gerakan Kristenisasi yang validitas ilmiah dan obyektivitasnya tidak dapat dipertanggungjawabkan secara mutlak khususnya dalam mengutarakan kajian tentang Islam; keempat, orientalisme merupakan bentuk kajian yang dianggap paling potensial dalam politik Barat untuk melawan Islam.
Sebagian lagi bersikap lebih toleran dan mereka terbagi dalam dua kelompok, satu kelompok bersikap sangat berlebihan, artinya semua karya tulis kaum orientalis dinilai sangat ilmiah sehingga bagi mereka seluruh karya orientalis sangat obyektif dan dapat dipercaya. Kelompok lain bersikap hati-hati dan kritis; mereka selalu berusaha berpijak pada landasan keilmuan. Menurut mereka, cukup banyak karya tulis kaum orientalis yang berisi informasi dan analisis obyektif tentang Islam dan ummatnya, karena memang tidak semua karya orientalis bertolak belakang dengan Islam melainkan hanya sebagian kecilnya saja.
Maryam Jamilah menyatakan bahwa orientalisme tidak sama sekali buruk. Sejumlah pemikir besar di Barat, kata Jamilah, telah menghabiskan umurnya untuk mengkaji Islam lantaran mereka secara jujur tertarik terhadap kajian-kajian itu. Tanpa usaha mereka, banyak di antara pengetahuan berharga dalam buku-buku Islam kuno akan hilang tanpa bekas atau tidak terjamah orang. Para orientalis dari Inggris seperti mendiang Reynold Nicholson dan Arthur J. Arberry berhasil menulis karya penting berupa penerjemahan karya-karya Islam klasik sehingga terjemahan-terjemahan itu untuk pertama kalinya dapat dikaji oleh para pembaca di Eropa.
Sebagai penutup penulis akan berkata dengan bijak bahwa jangan memandang siapa orang yang berbicara di depan anda, tapi pandanglah dan renungkanlah apa yang di bicarakan olehnya, jika baik ambillah dan jika buruk maka tinggalkanlah, tapi selepas itu tetaplah berkawan dengannya.
Muhammad Junaidi
(mahasiswa IAT, IAIN Wathoe Dhakon Ponorogo)
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment