Latest News

Menangkal Extremisme dalam Bingkai Pemuda Sebagai Agen Perdamaian




Dentuman keras terdengar oleh telinga, mengagetkan makhluk yang masih bernyawa. Terlihat sebuah bangunan yang dulunya tertata kini menjadi rata. Teriakan-teriakan manusia bagaikan ilustrasi gambaran dalam neraka. Anak-anak yang tak berdaya harus rela terenggut masa depannya bahkan kehilangan nyawa. Begitulah kiranya sebuah gambaran konflik yang terjadi di negara-negara tetangga. Bom dan peluru tembak terus menerus saling diluncurkan dengan mudahnya. Nyawa manusia pun menjadi korban. Tanah yang tak bersalah harus dipaksa berlumuran darah. Ironisnya, tragedi ini terjadi di sebuah negara yang beragama.

Semua itu disebabkan minimnya pemahaman akan ajaran agama. Agama diturunkan untuk menjadi solusi yang mendamaikan, bukan menyengsarakan. Jika kita menengok tentang permasalahan-permasalahan terjadinya konflik seperti ini, sungguh ironis sekali bahwasanya banyak pelakunya beragama Islam. Mereka menggunakan Islam sebagai payung hitam kekerasan. Fanatik dengan pemahamannya tentang Islam yang fundamental, hanya mengutip dalil-dalil yang bernuansa peperangan, dan memerangi orang-orang non Islam bahkan juga orang Islam lain yang  tidak sepemahaman dengan mereka. Hal semacam inilah yang kemudian menjadikan Islam di anggap sebagai dalang utama permusuhan, peperangan dan kerusakan. Padahal palaku dari konflik itu hanya segelintir orang dari ummat Islam, tapi dampak yang diberikan sangat luar biasa bagi seluruh umat Islam, bahkan agam Islam itu sendiri. Islam di anggap keras, Islam di anggap arogan, Islam tidak memiliki kasih sayang, Islam adalah ancaman dan lain sebagainya.

Anggapan-anggapan seperti ini tentunya tidak benar jika kita memahami Islam secara mendalam. Islam turun bukan untuk mengajarkan peperangan, bukan untuk menebarkan kebencian, dan bukan juga untuk saling menyalahkan. Namun, Islam turun penuh dengan perdamaian, penuh dengan kasih sayang, dan saling menghargai satu sama lain dalam kehidupan. Namun nilai-nilai penting dan indah ini  telah tertutupi oleh perbuatan kelompok-kelompok orang Islam yang melakukan kekerasan. Dan Konsep inilah yang dilupakan oleh kelompok faham radikalisme, ekstremisme, dan terorisme. Mereka lupa bahkan belum paham bahwa Islam adalah rahmatan lil alamin.

Indonesia adalah negara yang beragam. Keberagaman suku, ras, budaya, agama, dan bahasa menjadi icon bangsa di kancah dunia. Wilayahnya sangat luas, menjadikan Indonesia tampak indah dengan  pulau-pulaunya yang terpisah oleh lautan. Setiap pulau memiliki bahasa yang berbeda-beda, bahkan dalam satu pulaupun, terdapat bahasa ataupun budaya yang tidak hanya serumpun.

Keragaman ini ada sejak lama, dan tentu saja hal ini bukan di buat ataupun di bentuk oleh manusia. Keragaman membentuk Indonesia tetap utuh, tidak ada konflik fatal yang di sebabkan karena perbedaan apapun. Hubungan antar manusia dijaga, tata krama selalu ada dan dibawa disetiap aktivitas hidup. Menyelesaikan suatu permasalahan selalu dengan kesejukan, dimusyawarahkan bersama dan tidak menginginkan kekerasan sebagai solusinya.
Menganggap manusia lain sebagai saudara, tidak mendiskriminasikan perempuan dan selalu terbuka kepada siapa saja. Ini menjadi bukti bahwa Indonesia telah mengenal ajaran kemanusiaan, keadilan, egalitarianisme, musyawarah, pluralisme, toleransi, moderat, inklusivisme, dan gender awareness sejak lama. Atas dasar nilai-nilai itulah Indonesia menetapkan sebuah ideologi bangsa yang sila-silanya telah mencangkup semua norma luhur bangsa Indonesia, bernamakan ‘pancasila’.

Namun keutuhan pancasila kini terancam oleh faham-faham atau aliran-aliran  dari luar yang ingin menghancurkan bangsa Indonesia. Dan ironisnya aliran-aliran tersebut menjadikan Islam sebagai dalangnya, atas dasar agama Islam mereka mengancam keutuhan pancasila. Beragam aliran radikalisme perlahan mampu merongrong tubuh Pancasila dengan menanamkan doktrinasinya kepada sebagian masyarakat Indonesia. Provokasi menyerang sebagian masyarakat Indonesia agar menolak pancasila, menyalahkan pancasila, dan menganggap pancasila telah menggantikan hukum Islam. Padahal Indonesia bukanlah negara Islam. Pancasila sendiri jika dikaji baik secara historis maupun filosofis, nilai-nilainya sama sekali tidak bertentangan dengan nilai-nilai keislaman. Aliran-aliran itu adalah penganut faham radikalisme, ekstremisme, dan terorisme. Faham-faham ini sangat mengancam demokrasi dan kedamaian di Indonesia, khususnya dalam tatanan kehidupan kemasyarakatan dan kenegaraan.

Atas kegelisahan akan ancaman faham yang ingin meruntuhkan pancasila dan Indonesia, harusnya ada upaya-upaya untuk mencegah, menanggulangi, dan mengobati berbagai ancaman faham-faham ini. Nama baik Islam juga telah ternodai, selain mencegah, menanggulangi, dan mengobati korban-korban yang terjerumus dalam faham ini, juga harus ada upaya untuk mengembalikan nama baik Islam. Mengenalkan Islam yang rahmatan lil alamin di kancah dunia, dan menancapkan pemahaman pada umat Islam khususnya dan seluruh penduduk Indonesia secara umumnya, bahwa  Islam adalah kasih sayang, bahwa Islam adalah perdamaian, dan bahwa  Islam adalah kerukunan. Salah satu upaya yang sangat urgen di lakukan adalah menjadikan generasi muda sebagai  agen perdamaian, agen yang selalu menyuarakan Islam rahmatan lil alamin dan siap membela keutuhan NKRI. Upaya-upaya semacam ini harusnya tidak hanya di jadikan wacana saja, namun juga merealisasikannya di kehidupan yang nyata.

Progam-progam bina damai sebenarnya sangat banyak di lakukan oleh orang-orang yang sadar akan ancaman faham radikalisme, ekstremisme, dan terorisme. Sebagai contoh adanya seminar-seminar yang bernuansakan nasionalisme yang bertemakan dialog kebangsaan, pluralisme, dan dakwah para ulama yang menyuarakan bahwa NKRI harga mati. Selain semua itu harusnya juga ada upaya baru, yang di targetkan dapat menjadikan generasi muda sebagai ujung tombak dari perdamaian dan keutuhan NKRI. Seperti halnya progam Lombok Youth Camp yang di selenggarakan oleh CONVEY Indonesia, Nusa Tenggara Center, dan PPIM UIN Jakarta pada tanggal 21-25 Januari 2018 di pantai Klui Lombok Utara Nusa Tenggara Barat. Kegiatan ini menghadirkan 200 peserta dari pelbagai pulau di Indonesia, dari pulau Sumatra ada 50 orang peserta, Jawa 77 orang, Nusa Tenggara 39 orang, Kalimantan 8 orang, Sulawesi 18 orang, Maluku 4 orang, dan Papua 4 orang. Seluruh peserta ini adalah mahasiswa dan mahasiswi yang telah lolos seleksi. Dan semua peserta yang lolos seleksi, di berikan fasilitas dan akomodasi penuh dari panitia, mulai keberangkatannya ke Lombok hingga kepulangannya ke daerah asal.

Program ini di bingkai dengan bentuk kegiatan perkemahan atau kemah perdamaian yang dilaksanakan di pantai Klui Lombok Utara. Kemah perdamaian ini dibuka langsung oleh Gubernur Nusa Tenggara Barat, Dr. TGH. Muhammad Zainul Majdi, M.A. Ia menyampaikan apresiasinya terhadap terselenggaranya acara tersebut, sekaligus mengisi ‘majlis harmoni’ yang pertama, dengan materi Islam rahmatan lil alamin. Serangkaian perkemahan ini ada beberapa kegiatan yang menyenangkan dan mendidik yaitu Technical Meeting, Pembukaan, Outbound, Majelis Harmoni, Mentoring, Site Visit, Bakti Sosial, Muhasabah, Atraksi Budaya, Forum Perdamaian, dan yang terakhir penutupan.

Pada sesi Majelis Harmoni terdapat penyampaian tiga materi, pertama Islam rahmatan lil alamin, kedua merawat nasionalisme dan ke-Indonesian, ketiga cegah kekerasan, ekstremisme, radikalisme, dan terorisme. Materi yang pertama disampaikan oleh Gubernur NTB yaitu Dr. TGH. Muhammad Zainul Majdi, M.A. Materi kedua diisi oleh MENPORA RI (Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia). Materi yang terakhir disampaikan oleh BNPT RI (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Republik Indonesia).

Dalam sesi itulah materi-materi urgen dalam menjaga kesatuan republik Indonesia dan Pancasila di sampaikan. Selain materi-materi ini disampaikan dalam majelis harmoni, materi tersebut juga di fahami kembali dan didiskusikan dalam sesi Mentoring atau FGD (Focus Group Discussion). Kemudian merefleksikannya dengan bentuk apapun, seperti me-review materi lalu di-share ke media sosial. Juga terdapat kegiatan lain seperti mengunjungi tempat-tempat yang memiliki kearifan lokal dan menjaga alam dengan aktivitas ‘tanam’ 1000 pohon.

Kegiatan seperti ini sangatlah penting bagi Indonesia saat ini. Karena mengingat bahwa ancaman-ancaman pihak luar sangat kuat dan gencar dilakukan. Kita sebagai warga Indonesia yang terlahir di Indonesia, makan dari hasil alam Indonesia, dan merasakan kedamaian serta kerukunan masyarakat Indonesia, semestinya siap menjaga semua kekayaan alam, perdamaian, ideologi pancasila, khususnya menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia agar tetap tegak hingga akhir.

Oleh:Fandi Choirul Sholihin
Masiswa IAT IAIN Watoe Dakoen

No comments:

Post a Comment

Slilit.com || Meng-ada untuk Bermakna
|| Tata Letak: Rennes Syndicate ||..

Theme images by Bim. Powered by Blogger.