Latest News

Belajar Berdemokrasi yang Ah...Sudahlah...



Entah, tulisan ini nantinya akan menjadi apa, karena saya sendiri tidak berangkat dari penulis alami atau penulis didikan, saya hanya penulis dadakan yang mencoba menuangkan gagasan.

Yang ingin saya tulis seperti ini:
Semenjak saya menjadi mahasiswa dan aktif di salah satu organisaai intra kampus sekaligus menjabat salah satu jabatan strategis di dalamnya yang saya rasakan adalah adanya pembedaan antara mahasiswa organisasi A dan organisasi B, dimana pembedaan ini rasanya seperti dominasi yang sebenarnya tidak mendidik.

Tidak Mendidik?
Iya tidak mendidik sama sekali. Dengan adanya pembedaan ini tampaknya sesama mahasiswa yang sama-sama membayar iuran UKT kenapa harus ada pembedaan yang seakan disengaja? Bukankah ini menodai identitas kemahasiswaan sendiri yang, idealnya, mendapatkan hak yang sama dalam berorganisasi?

Kalaupun kegelisahan saya diatas ada yang tidak setuju, silahkan saja. Tapi mari kita coba refleksi ulang, dan hitung ulang sebarapa besar porsi organisasi tertentu yang mendominasi kampus? Sudah berapa lama dan berapa kali berganti generasi? Dan seberapa signifikankah perubahan menuju kebaikan berorganisasi yang selama ini dilakukan? Sudahkah dengan mendominasi, organisasi kampus tersebut memberikan kontribusi menuju kebaikan bersama? Yang saya rasakan selama ini hampir tidak ada perkembangan kualitas berorganisasi, yang ada adalah timbulnya fanatisme berorganisasi yang cenderung mengkerdilkan pola pikir dan wacana. Maka, hemat saya, alangkah baiknya jika cara berorganisasi di kampus kita sedikit diubah, tidak usah ada fanatisme organisasi yang berlebihan. Fanatisme yang berlebihan akan menumbuhkan nalar eksklusif, sedangkan eksklusifitas itu membodohkan dan orang bodoh mudah ditipu, oleh senior yang menjerumuskan ke jurang kebodohan, misalnya. Percaya atau tidak, coba lakukan refleksi terhadap diri sendiri atau lakukan riset kecil-kecilan kepada orang-orang yang fanatik.

Soal sandiwara Demokrasi, kenapa saya sebut sandiwara demokrasi?
Ya, sandiwara demokrasi. Cobalah tengok ke forum konggres mahasiswa kita, siapa panitianya?siapa pemimpin sidangnya? siapa orang yang interupsi? Siapa yang memutuskan?. Lalu, setelah itu ada sandiwara lobi-lobi dan setiap keputusan selalu menguntungkan siapa? Saya juga tidak cukup tahu soal ini.

Ya bukan apa-apa, sudah saatnya semua membuka mata, melihat dengan kesadaran.

No comments:

Post a Comment

Slilit.com || Meng-ada untuk Bermakna
|| Tata Letak: Rennes Syndicate ||..

Theme images by Bim. Powered by Blogger.