Jika status Whatsapp diatas disesuaikan dengan kondisi Pemilihan Umum Mahasiswa di kampus, maka:
Dalam status WA diatas memang benar adanya, dan perlu sangat disadari keadaan kehidupan berdemokrasi di kampus IAIN yang mengklaim diri sebagai kampus yang egaliter, sudahlah tidak sehat sejak lama dan memang lemah, seperti yang tercantum distatus WA tersebut.
Disebut lemah, karena memang sejak sudah sangat lama kampus yang konon katanya egaliter didominasi oleh organisasi tertentu. Sehingga sepintar dan selincah apapun mahasiswa dalam berorganisasi maka akan kesulitan untuk mendapatkan keleluasaan dalam berorganisasi terlebih untuk menjadi pemimpin organisasi atau mendapatkan posisi yang sesuai dengan kapasitas mahasiswa tersebut kecuali mahasiswa yang bersangkutan adalah anggota dari organisasi dominan seperti yang kami maksud, tapi meskipun mahasiswa yang bersangkutan tidak memiliki kapasitaspun jika berangkat dari organisasi dominan ini maka bisa saja dia mendapatkan posisi yang baik. Hal demikian tak lebih dan tak kurang karena memang organisasi yang dominan tersebut hampir memiliki seluruh keleluasaan yang dibutuhkan dalam mengatur geraknya alur pemilihan pimpinan organisasi intra kampus serta kebijakan-kebijakan yang akan diputuskan oleh organisasi intra kampus, kecuali organisasi-organisasi tertentu yang sanggup membebaskan diri dari pengaruh organisasi dominan ini.
Bukan, tulisan ini bukan sekedar membidik soal posisi pimpinan organisasi, tapi lebih pada iklim pendidikan berdemokrasi yang tidak sehat ini. Butuh bukti? tidak usah jauh-jauh mempelajari sejarah gerak organisasi di kampus selama bertahun-tahun. Lihat, amati dan teliti saja selama prosesi Musyawarah mahasiwa selama anda menjadi mahasiswa di kampus yang konon katanya egaliter ini. Dan lihat pula seberapa banyak organisasi dominan ini menguasai organisasi intra kampus. Belum lagi, kontestasi pemilihan pengurus organisasi tahun ini yang diwarnai beberapa kasus yang "tidak beres" dan "mencurigakan" (menghindari kata "curang"). Sebab, ada beberapa bakal calon peserta pemilihan ketua organisasi yang tiba-tiba gagal verifikasi karena sebab persaratan yang kata panitia (KPUM) tidak lengkap, sedangkan KPUM sendiri tidak mau bahkan terkesan menghindar ketika akan dimintai pertanggungjawaban dan klarifikasi soal kekurangan administrasi yang dimaksud. Dan inilah salah satu ciri demokrasi yang lemah seperti yang dimaksud oleh status WA diatas.
Terkait demokrasi yang akan hidup tapi diberangus. Memang benar adanya demikian. Seperti yang telah dibahas diatas, munculnya kontestan calon pengurus organisasi diluar lingkaran organisasi dominan merupakan tanda mulai bangkitnya iklim berdemokrasi yang sehat. Namun, itu hanya permainan sesaat dan hanya "abang-abang lambe" dari KPUM sebab setelah muncul kontestan baru, KPUM seakan mempersulit persyaratan sekaligus diduga sengaja menggagalkan bakal calon dengan alasan administrasi yang sebenarnya telah dipenuhi. Dan cara ini adalah salah satu tanda pemberangusan demokrasi dikampus yang dianggap akan hidup.
Selanjutnya, soal "wong edan kui bebas". Bisa jadi benar dan bisa juga salah, tergantung yang dimaksud edan menurut Sigmund Freud atau edan yang dimaksud Michael Foucault. Tapi jika memang dianggap benar bukan masalah. Namanya juga bebas, bebas semau orang gila yang dimaksud termasuk bebas menjegal lawan politik dengan cara yang tidak baik dan "kotor".***(Alhilal)

No comments:
Post a Comment