Dalam dunia kampus istilah junior yang tersemat untuk mahasiswa baru dan senior bagi mahasiswa lama seperti botol dan tutup yang sudah pas tidak dapat dirubah. Hal ini pun berimbas kepada setiap perilaku junior ke senior ataupun sebaliknya.
Apabila dulu tatanan sosial masyarakat didominasi oleh tuan tanah dan budak sebagai bawahannya. Maka dalam tatanan dunia kampus, senior adalah seorang kapitalis dan junior adalah buruh yang mesti mengikuti apa sudah distrategikan oleh senior dalam segala hal.
Apa kata senior akan selalu menjadi keinginan yang mesti dikabulkan. Dengan demikian junior pun menjelma doraemon, ketika senior berkata "Aku ingin begini, aku ingin begitu, aku ingin ini ingin itu, banyak maunya", maka tak ada alasan lain selain mengikutinya.
Perilaku semacam ini akhirnya berbutut panjang sehingga setiap masalah yang terjadi di kampus apapun bentuknya susah untuk diberantas, begitu juga dengan perpolitikan di kampus. Senior yang pernah menduduki jajaran pembesar kampus pastinya menginginkan dominasi kekuasaan sehingga menerjunkan tangan dan kakinya (juniornya) untuk memainkan peran masing-masing sehingga elite kampus hanya terdiri dari juniornya senior.
Ketika kita usut lebih dalam pun akan sulit menemukan sanad paling ujung (senior pertama) yang mengawali perilaku tersebut. Pertanyaannya adalah berapa juta tanya ke junior?. "Siapa yang menyuruh?" jawabannya senior. Bertanya ke senior, jawabannya dari seniornya lagi dan begitu seterusnya. Maka hanya ada satu hal yang dapat menjelaskan semua yaitu dalam otak junior sudah terfragmentasi kalimat "Kata (senior) adalah kitab suci"
Oleh:Rizky Pahlevi.

No comments:
Post a Comment