Tahun ini kembali menjadi tahun yang menyedihkan, selain menjadi tahun buram karena tugas skripsiku yang mangkrak juga karena kondisi kampus yang kian memilukan. Tidak memilukan bagaimana jika Hajatan tahunan berupa Kongres dan Pemilwa yang seharusnya berjalan independent dan transparan dikotori oknum-oknum menjadi penuh kepentingan, kecurangan, dan sekedar formalitas (Timbang Ora Enek). acara sakral pesta demokrasi warga mahasiswa kini menjadi acara yang membosankan dan mudah di tebak hasilnya.
Perubahan status dari KBM menjadi RM tahun lalu dengan konsekuensi menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi nyatanya juga masih tercium aroma-aroma tiran yang kolot. Demokrasi telah dimanipulasi sedemikian rupa oleh pemegang kepentingan untuk melanggengkan status quo nya. ini menjadi alat ampuh untuk mengintimidasi kaum minoritas. Pemilihan Mahasiswa yang mestinya mempertarungkan kualitas isi otak menjadi pertarungan isi kantong. Mereka yang punya modal dan dekat dengan penguasa sudah hampir dapat dipastikan bisa mencalonkan diri menjadi kandidat, sebaliknya kaum minoritas yang ingin mewarnai kontestasi politik kampus harus puas hanya sampai pertarungan verifikasi KTM.
Kampus sudah seperti tempat berkumpulnya para jahannam, menghalalkan segala cara untuk menjadi seorang penguasa. Lalu muncullah pemuda-pemuda fasis dengan semangat berkobar tapi bingung mau melakukan apa. Tak jarang 1 masa periode tak banyak program kerja terlaksana. Parahnya lagi malah tak ada acara apa-apa. Ada yang membuat acara mendatangkan pembicara hanya sekedar untuk mencairkan dana, tak peduli walaupun sejatinya mereka mewakili aspirasi ribuan mahasiswa. Kongres dan Pemilwa tak ubahnya ruangan parlemen: pameran adu mulut, adu kepentingan dan adu kelicikan. Tiap kepentingan berlomba satu sama lain untuk meniadakan satu dengan yang lain.
Entah apa yang ada di dalam otak para pemangku kepentingan dengan jas almamater tebal itu, semoga kita tetap sadar dan lekas tersadarkan bahwa kita berproses dikampus yang sama. Kampus yang Bhineka Tunggal Ika (berbeda-beda tapi tetap satu) walaupun, nyatanya "berbeda-beda tapi tetap rakus. Cukuplah hanya spesies lazim seperti, ayam, kambing, sapi dan sebagainya yang sepantasnya kalian bantai dan santap. Tapi, jangan teman-teman kalian. Memang jelas mereka tak dimakan tapi nyaris habis di kebiri dan di eksploitasi hak-nya sebagai mahasiswa.
Lalu,
Masihkan kau berbicara soal Politik bila nyatanya kau enggan untuk di kritik?
Masihkah kau menuntut Keadilan bila tujuan selalu kau capai dengan Kecurangan?
Masihkah kau gunakan transparansi jika audiensi saja selalu kau hindari?
Masihkan kau teriak Mahasiswa itu agen perubahan bila sikapmu tak pernah mencerminkan?
Masihkah kau percaya Demokrasi bila hak temanmu selalu kau Kebiri?
Mari merefleksi diri wahai sang 'MAHA'...***
(HsP)
No comments:
Post a Comment