Beberapa hari belakangan, kampus IAIN Ponorogo mempunyai hajatan besar berupa latihan berdemokrasi, berpolitik dalam rangka mencari pemimpin untuk RM (bukan Rumah Makan, tapi republik Mahasiswa). Warna-warni kegiatan berpolitik ala pemerintahan yang sesungguhnyapun memenuhi lingkungan kampus yang -katanya- egaliter. Mulai dari pembentukan KPUM (Komisi Pemilihan Umum Mahasiswa) yang dibentuk SEMA Institut dan jajaran SEMA Fakultas, hingga adanya forum sosialisasi yang dibarengi perubahan hasil konggres yang konggresnya entah kapan. Sosialisasi? Iya sosialisasi hasil konggres bukan konggres itu sendiri. Sebab, kata senior yang pernah ikut organisasi yang namanya konggres adalah forum pengambilan keputusan peraturan atas AD/ART yang akan diterapkan untuk RM. Lalu, siapa yang mengambil keputusan? Panitiakah?SEMAkah? DEMAkah?, saya tidak tahu pasti. Dengan fakta yang semacam ini maka bisa diambil kesimpulan bahwa hasil dari "konggres-konggresan" ini tidak untuk masyarakat RM, tapi untuk panitia sendiri dan orang-orang yang berkepentingan.
Lalu, seiring berjalannya waktu sampailah pada prosesi penetapan calon pemimpin yabg mereka sebut dengan presiden, lagi-lagi presiden-presidenan dan ketua HMJ, yang juga ketua-ketuanan. Pada momen ini keadaan mulai hangat. Kehangatannya karena banyak hal yang mulai tidak jelas semakin tampak dipermukaan dan mengesankan KPUM ingin menang sendiri. Dimulai dari peraturan-peraturan yang tidak jelas dan tidak bisa dimengerti banyak orang karena unsur ambigu yang fatal, KPUM yang tiba-tiba jadi pelupa hingga hilangnya jumlah fotokopi KTM yang menjadi sarat mengajukan diri menjadi presiden dan ketu HMJ tiba-tiba berkurang.
Pada kasus ini yang menarik adalah, jumlah fotokopi KTM yang tiba-tiba berkurang, karena secara kebetulan saya mengikuti calon dari organisasi intra yang mengumpulkan KTM. Jadi, malam sebelum penetapan calon kami berusaha memenuhi syarat tersebut dan kami yakinkan bahwa jumlah foto kopi KTM telah memenuhi syarat bahkan lebih. Namun pada waktu penetapan calon, salah satu calon tidak masuk dalam verifikasi dengan alasan kurangnya fotokopi KTM, lalu kemana fotokopi KTM yang dikumpulkan tersebut hilang? Saya juga tidak tahu pasti, mungkin KPUM masih ngantuk saat menghitung sehingga banyak fotokopi KTM yang hilang tanpa disadari, mungkin juga mereka lupa.
Kondisi yang demikian ini, yang menyebabkan salah satu calon gagal mencalonkan diri menyebabkan hanya ada satu calon yang masuk verifikasi, calonnya siapa dan dari mana? Anda nilai sendiri.
Atas kejadian ini, kami menduga bahwa KPUM mulai tidak netral dan memihak calon-calon tertentu. Dugaan ini bukan tanpa landasan, meskipun tanpa bukti yang nyata namun kecurigaan ini muncul karena KPUM menutup diri dan tidak berani menghitung jumlah foto kopi KTM didepan calon ketua dan saksi-saksi. Kata mereka hal ini adalah rahasia.
Dengan jatuhnya beberapa calon yang mengajukan diri, siapa yang diuntungkan? Dan siapa yang dirugikan? Anda cari tahu sendiri, karena kekuasaan dan dominasi adalah hal yang membuat orang ketagihan, kekuasaan dan dominasi adalah candu...*** (Al-Hilal)

No comments:
Post a Comment